Tugas PAI - Review Buku "Bukti-Bukti Adanya Allah"

Bukti-Bukti Adanya Allah

Book Summary

Oleh
Kasmundari



Nama              :    Kasmundari
NIM                :    A1B214020
Program Studi :    Pendidikan Bahasa Inggris
Fakultas          :    Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Judul Buku     :    Bukti-Bukti Adanya Allah
Pengarang       :    Prof. Dr. M. Mutawalli Asy-Sya’rawi
Penerjemah     :    A. Aziz Salim Basyarahil
Penerbit           :    Gema Insani Press
Tahun Terbit   :    1992
Kota Terbit     :    Jakarta




Bab I
SEBAB-SEBAB WUJUD

BUKTI PERTAMA: MAKHLUK
Bukti nyata yang dapat dengan mudah kita temui mengenai bukti-bukti adanya Allah adalah makhluk. Itulah bukti yang sepanjang siang dan malam selalu berada di hadapan kita dan dapat kita rasakan langsung keberadaannya sehari-hari. Ada benda-benda yang kondisinya secara fisik jauh lebih kuat dari kemampuan manusia, akan tetapi diciptakan Allah untuk mengabdi kepada manusia dan untuk memenuhi kebutuhan serta kepentingan manusia tanpa pamrih. Alam semesta memiliki kemampuan untuk tidak tunduk kepada kita atau kepada kemauan dan perintah manusia. Alam semesta semata-mata hanya tunduk kepada kekuatan dan kemampuan penciptanya serta tidak mampu menentang perintah atau kekuasaan penciptanya. Sebagai contoh, matahari yang tidak mampu terbit dan terbenam semaunya sendiri.
MEMBATALKAN KERAGUAN DAN KEBOHONGAN
Masalah makhluk hanya teratasi oleh Allah SWT semata tanpa dapat dibantah atau
disanggah oleh kemampuan akal manusia. Jika ada orang yang berpendapat bahwa alam ini tercipta karena kebetulan, ataupun berasumsi bahwa manusia berasal dari kera, sungguh itu merupakan suatu teori yang penuh kebodohan. Tanpa perlu memasuki perdebatan yang tidak ada faedahnya, kita katakan kepada mereka bahwa teori-teori mereka yang salah dan menyesatkan telah membenarkan apa yang tercantum dalam Al-Qur’an, bahwa akan ada manusia yang menyesatkan (manusia lain) sehubungan dengan penciptaan langit, bumi, dan manusia. Allah sendirilah yang berfirman bahwa Dia-lah pencipta segala makhluk, tidak ada yang lain.
PENCIPTA SEGALA SESUATU
 Pada surat Al-‘Ankabut ayat 61 dan 63, telah dijelaskan bahwa sesungguhnya orang-orang kafir dan musyrik tidak membantah hakekat penciptaan alam dan manusia oleh Allah. Namun tidak hanya alam saja, segala sesuatu yang ada di alam wujud (dhahir) ini Allah-lah Yang Maha Penciptanya. Manusia hanya mampu meningkatkan mutu dan memperbanyak produksi seperti pada penemuan ilmiah. Sesungguhnya Allah yang menciptakan atau mengadakan semuanya, dan manusia hanya mengembangkannya dari yang sudah ada, tidak satupun yang berasal dari yang tidak ada.
TANTANGAN
Allah telah berfirman pada surat Al-Hajj ayat 73 yang dengan nada menantang. Meski manusia telah berhasil menginjakkan kaki ke bulan, dan berbagai penemuan-penemuan lainnya, tapi tetap tak satupun dari mereka yang bisa menciptakan bahkan seekor lalatpun. Segala sesuatu di alam ini beserta segala hukum dan peraturan alamnya merupakan atas ketetapan Allah.
KEBEBASAN TAKDIR DAN HUKUM ALAM
Allah telah menyertakan kepada alam bukti-bukti tentang kebebasan takdir-Nya, tapi bukan dalam hukum alam. Sebab apabila Allah SWT memberikan kebebasan takdirnya dalam hukum alam, maka matahari akan bebas terbit dan terbenam dalam sehari atau beberapa hari, ataupun bumi akan bebas beredar dan berotasi ataupun berhenti. Perubahan sistem seperti itu tentu akan merusak dan membinasakan alam semesta ini. Oleh karena itu untuk kesempurnaan makhluk, maka hukum alam yang asasi berlangsung tetap dan tidak berubah. Akan tetapi tidak sulit bagi Allah SWT untuk mengubah dan menyimpangkan dari hukum yang telah tetap dan pasti.
PENCERMINAN KEBEBASAN TAKDIR PADA MANUSIA
Allah SWT menempatkan dalam hukum kausal bahwa bila laki-laki bersetubuh dengan perempuan maka lahirlah anak. Asal mula dari keseluruhan manusia adalah laki-laki dan perempuan. Tetapi Allah SWT dengan kebebasan takdir-Nya telah menciptakan Adam as. tanpa laki-laki dan tanpa perempuan, menciptakan Isa as. dari perempuan tanpa laki-laki. Kejadian tersebut hanya sekali dan tidak berulang, tapi cukup membuktikan bahwa Allah SWT bebas untuk menentukan takdirnya.
KEBEBASAN TAKDIR PADA ALAM YANG TAMPAK
Allah SWT telah menakdirkan daerah-daerah tertentu mempunyai curah hujan yang tinggi sementara daerah lainnya kering dan jarang turun hujan. Namun ada kalanya daerah dengan curah hujan tinggi mengalami musim kemarau terus menerus beberapa tahun, meski tidak selamanya. Hal ini membuktikan bahwa turunnya hujan tidak tunduk kepada hukum kausal saja tapi lebih ditentukan oleh kebebasan takdir-Nya. Allah SWT diatas segala sebab, dan Dia-lah yang menyebabkan perubahan serta pergantian segala hal sesuai dengan kemauan dan kehendak-Nya.
KEBEBASAN TAKDIR PADA TUMBUH-TUMBUHAN
Manusia menanam tumbuh-tumbuhan dan Allah SWT yang menumbuhkannya. Lahan tanaman dapat ditimpa kerusakan yang bahkan dengan ilmu pengetahuan yang tinggi pun tidak diketahui sebabnya. Karena sesungguhnya yang menyebabkan lahan berkurang kesuburannya dan tidak menumbuhkan tanaman yang menghasilkan bukan karena hal-hal yang telah diketahui saja, tetapi lebih utama karena takdir Allah SWT yang diatas segala sebab.
KEBEBASAN TAKDIR PADA HEWAN
Kebebasan takdir Allah SWT pada hewan sudah jelas sekali. Banyak hewan yang jauh lebih kuat dari manusia tapi justru tunduk demi kepentingan manusia, seperti unta, kuda, sapi dan sebagainya. Bukan kuasa manusia yang bisa menjinakkan mereka, karena jika iya maka seharusnya manusia pun bisa menjinakkan ular, srigala, pelanduk, dan sebagainya. Allah-lah yang melumpuhkan kekuatan hewan-hewan kekar itu agar mengabdi kepada manusia.
KEBEBASAN TAKDIR ALLAH PADA BENDA
Allah SWT telah menakdirkan tanah agar padat dan dapat ditinggali manusia. Meski terkadang permukaan tanah menjadi labil, seperti terjadinya gunung meletus ataupun gempa bumi. Allah memang telah membuka ilmu pengetahuannya dan membuat manusia mengetahui atau memprediksi sebagian kecil bencana alam, namun tidak selamanya manusia dapat mengetahui kapan bencana akan terjadi. Sebaliknya, hewan-hewan yang tak memiliki akal dan ilmu pengetahuan setinggi manusia, tapi mereka dapat merasakan apabila akan terjadi bencanadan akan meninggalkan sarangnya atau akan ribut dan gaduh sebelum datangnya bencana. Inilah peringatan dari Allah SWT agar kita tidak terlalu memuja ilmu pengetahuan. Agar kita tidak melupakan kebesaran Allah karena kemajuan ilmu pengetahuan.



Bab II
BUKTI-BUKTI PADA DIRI MANUSIA

BUKTI KEDUA: PERJANJIAN
Apabila kita mau mengamati dan meneliti tubuh kita dengan seksama, pasti kita akan mengetahui bahwa dalam diri kita banyak terdapat bukti-bukti keagungan dan kebesaran kekuasaan Allah SWT. Kita mengetahui apa-apa yang dihalalkan dan diharamkan Allah SWT. Dan kita juga mengetahui bagaimana kondisi hati manusia pada umumnya terhadap apa yang diperbuatnya. Sebagai contoh, sepasang suami istri akan dengan santainya keluar masuk rumah mereka berdua maupun bepergian berdua dengan saling berdekatan. Hal ini berbeda apabila laki-laki dn perempuan yang bukan suami isteri yang melakukannya. Mereka apabila hanya berduaan di suatu ruangan akan mengunci semua pintu dan jendela karena merasa takut ada yang melihat, ataupun mereka akan menghindari keramaian apabila berduaan. Tampak sekali perbedaan antara keduanya. Perbedaannya adalah menyangkut halal dan haram. Yang dihalalkan Allah cocok dan diterima oleh semua orang, sedangkan yang diharamkan-Nya diingkari serta ditolak oleh nafsu manusia.
BATASAN KEBAIKAN DAN KEJAHATAN
Pada firman Allah surat Al-A’raaf ayat 172 telah memberikan tafsir tunggal mengenai batasan kebaikan dan kejahatan, yang telah diletakkan ke dalam diri kita secara fitrah. Oleh karena hal itu merupakan pemberian rububiyyah (yang berhubungan dengan penciptaan), dan batasan tersebut terdapat pada seluruh jiwa umat manusia, maka sesungguhnya Allah SWT adalah Rabb seluruh umat manusia, baik yang beriman maupun yang kafir.
BERIMAN KEPADA YANG GAIB
Allah SWT itu gaib, tidak dapat dilihat. Keimanan bukanlah penglihatan. Keiimanan adalah sikap membenarkan terhadap yang gaib. Dalam jasad kita terdapat roh yang memberi kita gerak serta kehidupan. Semua orang yakin ada sesuatu dalam tubuhnya yang bernama roh, yang apabila keluar dari jasadnya maka berhentilah gerakannya dan berakhirlah kehidupannya. Tidak ada yang pernah melihat roh ataupun mengetahui dimana letaknya di dalam tubuh. Akan tetapi kita tahu keberadaannya berdasarkan pengaruh yang ditimbulkannya. Begitu pula dengan Allah. Kita yakin dengan adanya alam beserta makhluk-makhluk penghuninya yang menakjubkan merupakan bukti adanya wujud Allah.
KEWENANGAN ALLAH
Kita bukanlah penguasa atas diri kita sendiri. Tubuh kita adalah milik Allah, dan Dia dapat berbuat apa saja yang dikenhendaki-Nya terhadap tubuh kita, kecuali yang diserahkan kepada kita untuk menjadi pilihan kita. Bukan kita yang mengendalikan detak jantung kita. Ada orang yang memiliki dua mata yang terbuka tapi tak bisa melihat. Kita melihat dengan mata tapi Allah-lah yang memberi wewenang untuk melihat karena Allah-lah Sang Pemberi mata kepada kita. Begitu pula kaki, lidah, telinga, dan anggota tubuh lainnya.
ANGGOTA TUBUH TUNDUK KEPADA MANUSIA DENGAN IZIN ALLAH SWT
Allah SWT membuktika bahwa gerakan-gerakan yang kita inginkan tidak akan terlaksana dengan sempurna kecuali dengan izin Allah SWT. Kita hanya punya niat melakukan sesuatu dan otot-otot kita bergerak dengan wewenang Allah SWT tanpa kita ketahui atau sadari, sama sekali bukan dengan kemauan kita.
TAWA DAN TANGIS DARI ALLAH SWT
Datangnya tawa dan tangis dari Allah SWT, karena itu maka pemberian itu berlaku bagi semua umat manusia. Hal ini sebagai salah satu bukti keadilan Allah SWT. Di seluruh dunia apabila diperhatikan model tawa dan tangis yang diciptakan bagi manusia semuanya sama meski bahasa dan bangsa mereka berbeda. Tawa dan tangis yang berbeda hanyalah yang dibuat-buat bukan dalam arti yang sebenarnya. Manusia akan tertawa saat gembira atau karena hal yang lucu, ataupun akan menangis saat sedih, meski hal-hal yang menyebabkan tawa atau tangis itu berbeda. Manusia tidak bisa memerintahkan dirinya untuk tertawa atau menangis dalam arti yang sebenarnya tanpa dibuat-buat. Itu semua dari Allah SWT dan tidak bisa dikendalikan oleh kemauan manusia.
AMAL PERBUATAN MANUSIA DENGAN HIKMAH TAKDIR PENCIPTAANNYA
Kita tidak bisa berkata bahwa kitalah yang menguasai tubuh kita sepenuhnya tanpa campur tangan Allah, atau dengan kata lain tidak beriman kepada Allah, karena ketika Allah memberi tubuh kita suatu penyakit maka kita tidak kuasa untuk menolak ataupun mencegahnya. Begitupun dengan segala rencana yang akan kita lakukan, semua dapat terjadi atas izin Allah. Takdir Allah akan tetap berjalan walaupun bertentangan dengan kehendak kita. Kita pasti akan tunduk dengan takdir Allah, walaupun dengan suka rela atau terpaksa. Bila datang perintah dari Maha Penyebab yaitu Allah SWT untuk mengakhiri hidup seseorang manusia, maka berakhirlah umur manusia tersebut.
DALAM KEHIDUPANNYA YANG SINGKAT MANUSIA TIDAK MEMILIKI SESUATU DARI MUKJIZAT AL-QUR’AN
Setiap orang memiliki kekuatan dan kemampuan akal yang berbeda. Apabila diadakan suatu pembahasan ilmu pengetahuan tertentu, tentunya tidak semua orang akan memahaminya karena perbedaan ilmu yang dimiliki tiap-tiapnya. Itulah kondisi akal manusia dalam menghadapi ilmu-ilmu keduniaan. Lain halnya apabila yang dibahas adalah Al-Quran firman Allah SWT, maka dapat dipastikan seluruh jiwa yang beriman akan cocok menerimanya. Ataupun apabila telah datang waktu shalat, semua berdiri serasi di belakang imam dan hilanglah tabir pembeda urusan keduniaan yang ada di antara mereka. Yang mempersatukan mereka bukanlah ikatan ilmu pengetahuan atau kebudayaan, tetapi ikatan iman.
KEAJAIBAN PADA MAKHLUK MANUSIA
Manusia punya kelebihan dengan memiliki sidik jari yang masing-masing berbeda dengan milyaran manusia lainnya, begitu juga dengan bau badan yang khas tiap manusia dan juga sidik suara yang berbeda. Kekhasan ini dimaksudkan untuk menjadi petunjuk di hari kebangkitan bahwa orang yang bersangkutanlah yang dimaksud. Selain itu, Allah SWT juga meletakkan keajaiban dalam diri kita terhadap putera-puteri lita. Ada yang hidup lebih lama dengan ibu bapaknya tapi memperoleh kasih sayang yang relatif kurang dan ada yang hidup dengan lebih pendek dengan ibu bapaknya memperoleh kasih sayang yang relatif lebih banyak. Inilah bukti-bukti kebesaran Allah SWT.



Bab III
BUKTI GAIB

GAIB NISBI DAN GAIB MUTLAK
Ada perbedaan antara sesuatu yang wujud dengan kamampuan kita untuk mengetahui sesuatu yang wujud. Dan rahmat Allah-lah yang menyebabkan kita menyadari dengan akal kita bahwa yang semula kita duga tidak ada ternyata ada. Gaib itu ada dua macam, yaitu gaib nisbi (relatif) dan gaib mutlak. Gaib nisbi adalah sesuatu yang tidak kita ketahui tetapi ada orang lain yang mengetahuinya. Contohnya saat kita kemalingan, kita tidak mengetahui siapa yang mencuri dan dimana barang kita yang dicuri, tetapi para pencuri itu mengetahuinya. Adapun gaib mutlak hanya Allah-lah yang mengetahuinya.
BUKTI KETIGA: BUKTI TENTANG WUJUD ALLAH DARI KEKHUSUSAN JIWA MANUSIA
Allah SWT mengetahui segala yang gaib dan yang tersembunyi dalam jiwa manusia, dan Allah SWT juga menguasainya sepenuhnya. Perasaan hati, pertimbangan batin, serta akal pikiran manusia sepenuhnya berada di tangan Allah SWT, dan Allah hanya memberi kita yang sekedar dikehendaki-Nya saja. Memang manusia bebas memilih dalam hal pengamalan hukum dan peraturan Allah, akan tetapi tidak bebas secara mutlak. Manusia diberi kebebasan untuk memenuhi atau tidak mematuhi ajaran Allah SWT. Beriman atau kufur. Contohnya seperti apa yang terjadi pada Abu Lahab yang mengambil kalan kekafiran sebagai pilihannya, meski jika dilihat dari segi peluang Abu Lahab pun mempunyai kemungkinan untuk masuk Islam sebagaimana tokoh kafir lain yang mendapat hidayah dan masuk Islam seperti Abu Sofyan, Kholid bin Walid, Ikrimah bin Abi Jahal, dll.
PENGALIHAN ARAH KIBLAT
Ketika kiblat ke Baitil Maqdis dialihkan arahnya ke Ka’bah Al-Musyaraffah, turunlah surat Al-Baqarah ayat 142 yang menerangkan perihal sikap kaum yang bukan mukmin yang terbaca oleh Allah SWT sebelummereka menunjukkan sikap (mengucapkan kata-kata) daimaksud. Dan pada akhirnya olok-olokan mereka itu terbukti, sebagaimana yang diterangkan Al-Qura’an sebelumnya. Apa yang menjadi urusan dan gaib dari Allah SWT pasti terlaksana meskipun hasrat dan kemauan manusia tidak sejalan dengannya.
KISAH ORANG-ORANG MUNAFIK
Firman Allah surat Al-Baqarah ayat 235 yang mengatakan bahwa Allah mengetahui apa yang ada di hati kita. Orang tidak beriman yang tidak mempercayai kata-kata ini mempertanyakan bukti keilmiahannya. Lalu turun pula surat Al-Munaafiquun ayat 1 yang menceritakan beberapa orang munafik yang menemui Rasulullah SAW untuk menyatakan keislaman mereka, mengakui bahwa sesungguhnya Muhammad benar-benar Raulullah. Dan Allah mengetahui isi hati mereka bahwa mereka orang-orang munafik itu benar-benar pendusta. Allah mengetahui rahasia dan bahkan yang lebih tersembunyi.
PERANG PERSIA DAN ROMAWI
Bukti material lain lagi yang berkaitan dengan alam gaib adalah surat Ar-Ruum ayat 1-4 dan perang antara Persia dan Romawi yang diceritakannya. Dalam surat itu Allah mengatakan bahwa Romawi akan kalah, lalu menang beberapa tahun lagi. Memang benar bahwa perang antar keduanya dimenangkan oleh Persia yang rakyatnya terkenal sebagai penyembah api dan berhala menjadi bergembira. Turunnya ayat itu membuat kaum mukmin yang awalnya bersedih akibat kekalahan menjadi tenang dan hilang kesedihannya. Meski tujuh tahun setelahnya tetap tak terjadi apa-apa, Rasulullah SAW menjawab bahwa ‘beberapa’ tahun yang dijanjikan Allah itu berarti ‘kurang dari sepuluh tahun’, dan dua tahun setelahnya Kerajaan Romawi akhirnya menghancurkan Persia. Inilah bukti maaterial dari Allah SWT, bahwa Allah mengetahui yang gaib di langit dan di bumi dengan ilmul yakin.
HAL YANG TIDAK DIALAMI BUKAN BERARTI TIDAK ADA
Apabila kita tidak mengalami sesuatu maka tidak berarti bahwa hal tersebut tidak ada. Allah telah memberikan bukti material, di samping bukti keimanan, bahwa gaib itu ada. Allah SWT memberitahukan bahwa malaikat, jin, dan neraka itu ada, dan semuanya termasuk gaib. Kita pasti dan harus meyakini kebenarannya meskipun yang gaib belum pernah kita saksikan dan alami karena yang memberitahu hal tersebut adalah Allah SWT. Seperti contohnya kuman dan bakteri yang menyerang tubuh manusia dan menimbulkan penyakit. Dulu berabad-abad sebelum ilmu pengetahuan membuat kita mengenai keberadaan kuman dan bakteri, hal itu merupakan sesuatu yang gaib bagi kita. Tak ada yang tahu bahwa yang menyebabkan sakit adalah kuman dan bakteri, sehingga dahulu orang mengira bahwa penyakit disebabkan oleh roh-roh jahat. Tapi seiring perkembangan teknologi kita tahu keberadaan bakteri di sekitar kita, bahkan kita melihat dan mengetahui aktivitasnya seperti bergerak, berkembang biak, menyerang, dan bertempur. Bahkan penemuan terhadap teleskop raksasa dan canggih sekarang ini juga membuka tabir pengetahuan tentang planet-planet yang dulunya tidak diketahui keberadaannya.
KEHIDUPAN MANUSIA MENJADI SAKSI ATAS DIRINYA
Allah menghendaki agar kita menjadi saksi atas apa yang terjadi pada diri kita sendiri, sehingga kelak di hari kiamat tidak ada alasan kita tak mengenal yang gaib karena tidak diberi Allah SWT bukti material tentang yang gaib itu pada kita. Allah menganugerahi manusia kemampuan untuk mewarisi peradaban dan budaya, serta mengembangkannya. Kemampuan khusus ini tak dimiliki hewan dan tumbuhan sehingga tingkat kemampuan keduanya tergantung pada daya upaya pikiran manusia. Allah SWT memberitahu kita bahwa peradaban umat akan semakin meningkat dengan diungkapkannya hukum, peraturan, dan ketentuan-ketentuan alam ini oleh-Nya.
SEMUA YANG DI DALAM TANAH
Firman Allah surat Thaha ayat 6 mengatakan “Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya, dan semua yang di bawah tanah”. Ayat ini turun lebih dari empat abad yang lalu di mana tak ada seorang pun yang tahu arti ‘dan semua yang di dalam tanah’. Apa yang ada di dalam tanah masih gaib bagi manusia. Lalu terungkap bahwa dalam perut bumi ini mengandung  kekayaan yang melimpah seperti minyak bumi, emas, besi, dan mineral lainnya, serta benda-benda berharga lainnya, juga aliran sungai di bawah tanah. Benda-benda dan kekayaan itu sudah ada sejak jaman dahulu, tapi baru ditemukan pada abad ini.



Bab IV
DI BUMI JUGA ADA AYAT-AYAT ALLAH

APAKAH MEREKA TIDAK MEMPERHATIKAN?
Allah SWT memiliki ayat-ayat (bukti kekuasaan) yang memadati bumi dan langit, akan tetapi kebanyakan manusia melalaikannya. Dalam surat Faathir ayat 28 dikatanyan bahwa sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama. Ulama yang dimaksudkan di sini ialah orang-orang yang mengetahui kebesaran dan kekuasaan Allah, atau bisa disebut ilmuan. Mereka yang mengkaji ciptaan-ciptaan Allah SWT di alam semesta ini, baik itu yang ditemukan saat berada di jalan datar, mendaki gunung, menyelam ke dasar lautan, terbang ke luar angkasa, ataupun memasuki perut bumi. Seharusnya mereka-lah orang-orang pertama yang bersujud dan beribadah kepada Allah, tetapi mereka ternyata justru menodai agama dan keimanan, karena menganggap dirinya telah mengetahui rahasia-rahasia alam.
HUKUM JAGA DAN TIDUR
Pada saat bangun (terjaga) manusia harus tunduk kepada aturan-aturan yang diketahui sebagiannya, contohnya waktu. Tetapi apabila tidur, dia berpindah pada hukum dan peraturan yang sama sekali berbeda dan tidak diketahuinya. Kita tidak bisa merasakan perjalanan waktu saat itu. Karena waktu adalah ukuran bagi kejadian-kejadian, sedangkan orang yang tidur lepas dari kejadian-kejadian. Orang yang tidur memejamkan matanya, tapi mereka juga bergerak, berjalan, berlari, berbicara, bertemu dengan orang-orang yang sudah mati dan berbicara dengannya, tetapi tanpa menginggalkan tempat tidurnya atau bergerak sedikitpun. Kejadian-kejadian yang dialami manusia dalam alam tidur tidak dapat dimengerti dan dijangkau oleh ilmu pengetahuan. Yang ada hanyalah dugaan-dugaan dan khayalan mengenainya.
PENYEBAB PEMBANGKANGAN TERHADAP MANHAJ ALLAH
Meski bukti petunjuk ke jalan keimanan tak terhitung banyaknya, orang-orang ingkar tetap tak mau beriman karena dasarnya mereka ingin dapat membuat sumber syariat sendiri sebagai wujud keserakahannya. Manhaj Allah berdiri tegak atas landasan keadilan bagi seluruh umat manusia dengan menjamin hak masing-masing, sedangkan manhaj manusia lebih cenderung mengambil hak orang lain. Seperti pertarungan sengit lebih dari satu abad antara ilmuwan dan cendekiawan dengan pihak gereja, yang akhinya membawa ilmuwan Itali termasyur, Galileo, pada abad kelima belas masehi dihukum mati oleh gereja dengan dibakar hidup-hidup karena penemuannya yang membuktikan bahwa bumi ini bulat sedangkan ajaran gereja menganggap bahwa bumi itu datar. Hal itu karena pihak gereja meyakini sesuai kitab mereka bahwa nabi Adam as. memakan buah ilmu pengetahuan sewaktu di surga sehingga diusir dari sana. Padahal menurut pandangan Islam, Nabi Adam memakan buah terlarang karena rayuan dan tipu daya iblis sehingga sampai terbuka aurat tubuhnya. Begitulah tipu daya setan, memperindah yang buruk dengan membuka aurat sehingga menyebabkan manusia terjerumus ke limbah hina dan memalukan.
MANUSIA SEKEDAR MENEMUKAN, BUKAN MENCIPTAKAN
Segala ilmu pengetahuan berasal dari Allah SWT yang telah dibukakannya bagi manusia. Manusia hanya sekedar menemukan, bukan menciptakan dan tidak pula meletakkan dasar-dasar hukum serta peraturan penciptaan. Allah membukanya bagi mereka yang mencarinya, mengenali, dan menggunakannya. Allah SWT mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya, agar manusia menyadari bahwa segala ilmu adalah dari Allah.
RAHASIA DIBALIK PEMISAHAN AGAMA DENGAN ILMU PENGETAHUAN
Dalam riset dan penyelidikannya, para ilmuwan berusaha mengingkari peran agama. Mereka sangat yakin terhadap kemampuan diri sendiri dan mempunyai ambisi untuk mengklaim bahwa merekalah yang menciptakan dan mengaturnya. Mereka bersikap demikian bukan karena bukti material terhadap wujud Allah SWT tidak mereka ketahui dan bukan juga karena ayat-ayat dan petunjuk Allah SWT tidak sampai kepada mereka, mereka sudah mengetahui semuanya, tetapi mereka menyombongkan diri terhadap keimanan karena keinginan mereka untuk mencapai ambisi dan kepentingan pribadi, atau karena memang tidak meyakini adanya hari akhir dan meyakinkan diri bahwa kenikmatan duniawi adalah puncak dari segala-galanya.
DAN KAMI JADIKAN TANDA SIANG ITU TERANG
Secara ilmiah telah dibuktikan bahwa mata kita dapat melihat sesuatu di siang hari karena ada cahaya dari matahari yang dipantulkan dan dapat ditangkap oleh retina mata sehingga mata dapat melihat. Hal ini sesuai dengan firman Allah pada kutipan surat Al-Isra’ ayat 12 yang artinya “Dan Kami jadikan tanda siang itu terang”. Jadi yang terang itu adalah siangnya, bukan mata. Permasalahan ini cukup memberi bukti akan tepatnya pemilihan kita untuk beriman kepada Allah Maha Pencipta seluruh alam semesta.
DAN KAMI TELAH MENGHAMPARKAN BUMI
Allah telah berfirman pada surat Al-Hijr ayat 19 yang artinya: “Dan Kami telah menghamparkan bumi”. Ayat itu jika dilihat sekilas berarti bumi itu datar. Akan tetapi, bila dikaji lebih lanjut, ayat ini ditujukan kepada bumi secara umum. Artinya, di bagian bumi mana saja kita berada pasti akan mendapati bentuknya yang berupa hamparan, baik itu di khatulistiwa, di kutub utara maupun selatan, di Amerika, Eropa, maupun Asia. Keadaan seperti ini tidak mungkin terjadi kecuali bila bumi ini bentuknya bulat seperti bola. Bila bumi bersegi atau bentuk lainnya, tentu kita akan sampai ke tepian bumi dan di sana tidak akan ada hamparan atau bentangan bumi. Inilah mukjizat Al-Qur’an. Sepatah kata namun mempunyai dimensi yang cocok dan pas dengan kenyataan dan hakekat alam semesta.
DAN MALAM PUN TIDAK DAPAT MENDAHULUI SIANG
Penjelasan Al-Qur’an tentang bentuk bumi yang bulat tidak hanya ada dalam satu ayat, tetapi dalam beberapa ayat. Seperti pada surat Yaasiin ayat 40 dan surat Al-Furqaan ayat 62. Kedua ayat itu menjelaskan adanya siang dan malam serta pergantiannya. Bahwa malam tidak dapat mendahului siang, bahwa malam menggantikan siang dan siang menggantikan malam. Tiap belahan bumi pasti ada siang dan malamnya. Dan dengan adanya silih berganti ini, berarti bumi tidak diam tetapi berotasi.
ALLAH MENUTUPKAN MALAM ATAS SIANG DAN MENUTUPKAN SIANG ATAS MALAM
Itulah keajaiban (mukjizat) Al-Qur’an yang berisi firman Allah SWT, yang menciptakannya adalah Allah, dan yang memberitahu kita bahwa bumi kita bulat dan berotasi atau berputar pada sumbunya adalah Allah. Seperti yang telah dijelaskan pada surat Az-Zumar ayat 5.
ROTASI BUMI
Bukti lain tentang berotasinya bumi adalah surat An-Naml ayat 88 yang mengatakan bahwa gunung-gunung berjalan sebagaimana awan. Tentu kita dapat melihat awan bergerak, tapi tidak dengan gungung. Kita tahu bahwa awan bergerak tidak dengan sendirinya melainkan karena angin yang bergerak, begitupun dengan gunung. Gungung yang bergerak karena bumi itu sendiri yang bergerak, dan kita yang berada di permukaannya tentu tak dapat melihat dan merasakan pergerakannya. Sesuai dengan firman Allah surat Al-An’aam ayat 11 yang artinya: “Katakanlah: ‘Berjalanlah di muka bumi’” yang berarti kita berada di permukaan bumi, di tengah-tengah antara permukaan tanah dan atmosfir yang mengelilingi bumi, bahkan meskipun kita terbang dengan pesawat kita tetap berada di muka bumi.



Bab V
BUKTI-BUKTI MATERIAL DARI AL-QUR’AN

AL-QUR’AN ADALAH PELINDUNG/PEMELIHARA
Kita tidak hanya bisa mengambil kebenaran Al-Qur’an berdasarkan bukti ilmiah saja. Karena Al-Qur’an adalah pelindung, pemelihara, pengamat, dan ‘akhlaq’ yang benar, sedangkan ilmu hanya sekedar dapat mengungkap kodrat Allah dalam alam. Semua bahasan dalam buku ini membahas dalil-dalin dan bukti material atau yang ada dalam alam nyata adalah untuk menyanggah orang-orang yang tidak beriman sehingga mereka tidak dapat menyanggah lagi. Dengan melakukan pengamatan/pengkajian terhadapa apa-apa yang ada dalam alam ini berdasarkan kemampuan kita sebagai manusia, dapat dibuktikan kebenaran ayat-ayat dan keajaiban-keajaiban yang tercantum dalam Al-Qur’an.
TIDAK ADA PERTENTANGAN ANTARA AL-QUR’AN DENGAN ILMU PENGETAHUAN YANG BENAR
Setiap ada pertentangan antara Al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan, maka dapat dipastikan penyebabnya adalah ilmu pengetahuannya yang salah atau karena pemahaman kita terhadap Al-Qur’an yang tidak benar. Beberapa ilmuwan Barat mengaku bahwa mereka tidak akan percaya kecuali terhadap apa yang mereka lihat dan saksikan, atau istilahnya ‘seeing is believing’. Menurut mereka ilmu pengetahuan membahas fenomena-fenomena yang tampak dan terlihat, sedangkan agama membahas permasalahan-permasalahan gaib yang harus diimani manusia secara taklid. Menurut mereka, itulah titik pertentangan antara agama dan ilmu pengetahuan. Bab ini akan membahas beberapa pendapat ilmuwan Barat yang tidak beriman mengenai pertentangan aga dan ilmu pengetahuan tersebut.
BAGAIMANA JANIN DALAM RAHIM TERCIPTA
Pada abad ke-17 ilmu pengetahuan menyatakan bahwa manusia diciptakan sudah dalam bentuk lengkap atau sempurna di dalam sperma, itu artinya apabila sperma diperbesar maka akan ditemukan bentuk manusia yang lengkap sempurna, yang berarti penciptaan manusia tanpa melalui tahap-tahap. Lalu pada abad ke-18 setelah ovum atau sel telur berhasil diidentifikasi, pendapat itu berubah menjadi bahwa dalam ovum telah terdapat manusia lengkap, dan sperma hanya sekedar melakukan perkawinan. Pendapat ini terus bertahan hingga abad ke-20 ilmu pengetahuan modern mengungkapkan penemuan baru tentang perkembangan janin dalam rahim ibunya, bahkan melalui alat modern dapat dilihat perubahan dan perkembangan janin. Namun jauh sebelum itu, empat belas abad yang lalu dimana dunia masih buta sama sekali terhadap proses pembentukan dan perkembangan janin dalam kandungan, Al-Qur’an telah menerangkannya secara rinci. Ini tidak mungkin terjadi kecuali jika datangnya penjelasan itu dari Allah SWT.
PERKEMBANGAN JANIN MENURUT AL-QUR’AN
Firman Allah SWT surat Al-Mukminun ayat 12-14 telah menjelaskan secara rinci tentang penciptaan manusia, yang berawal dari tanah. Para ilmuwan menganalisis tanah dan menemukan bahwa tanah memiliki delapan belas unsur utama, sama dengan manusia yang dianalisis ternyata memiliki unsur-unsur yang sama dan juga berjumlah delapan belas. Lalu para ahli bedah yang mengamati perkembangan embrio dalam kandungan juga mengakui kebenaran perincian penciptaan manusia dalam surat Al-Mukminun ayat 12-14 tersebut. Semua yang ada dalam ayat tersebut adalah benar adanya dan sesuai dengan pembuktian ilmuwan-ilmuwan tersebut.
SEORANG ILMUWAN MASUK ISLAM
Lalu dalam sebuah konferensi seorang ilmuwan ternama dalam ilmu bedah bernama Prof. Tajatsat Tajasan dari Muangthai mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan peserta konferensi yang saat itu membahas saraf manusia. Mereka membahas saraf yang berada tepat di bawah kulit manusia sehingga apabila terbakar maka hilanglah seluruh rasa yang biasa menyertainya. Surat An-Nisaa’ ayat 56 yang artinya: “Setiap kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit lain, supaya mereka merasakan azab”. Dengan ayat ini Allah SWT menerangkan bahwa azab itu kekal, terus menerus, tidak diringankan tidak pula dihentikan. Karena Allah SWT tahu bahwa kulit yang hangus dapat menyebabkan hilangnya rasa sakit, maka bila kulit ahli neraka itu diganti-Nya maka dapat merasakan azab yang terus-menerus. Sesuai dengan surat Az-Zukhruf ayat 74-75 bahwa tidak diringankan azab itu dari mereka dan mereka di dalamnya berputus asa.
DUNIA SEKARANG MEMPELAJARI APA YANG DIAJARKAN MUHAMMAD SAW EMPAT BELAS ABAD YANG LALU
Pada surat Al-Anbiyaa ayat 30 telah dikatakan dan dijelaskan bahwa langit dan bumi dulunya adalah suatu kesatuan yang padu. Hal itu sesuai dengan para ilmuwan yang membuktikan bahwa unsur-unsur penyusun permukaan bulan adalah sama dengan unsur-unsur penyusun permukaan bumi. Seorang geolog termasyur dunia bernama Dr. Alfred Krohmer membantah bahwa mustahil 14 abad yang lalu ada kitab manapun yang mencantumkan hakekat ini. Akan tetapi apa yang dikatakan Muhammad SAW sejak 14 abad yang lalu benar-benar merupakan hakekat yang tidak bisa dibantah . ilmu modern pun terpaksa menetapkan dan membenarkannya.
ITU ADALAH WAHYU DARI LANGIT
Kelicikan Prof. Alfred Khroner selalu menghindar memberi kesaksian bahwa ilmu ini (yang tercantum dalam surat Al-Anbiyaa ayat 30) datang dari Allah. Bahkan hadits Rasulullah SAW mengenai datangnya kiamat setelah bumi bangsa Arab menjadi ladang rumput dan perkebunan serta mengalir sungai-sungai sebagaimana sedahulunya juga dibantah olehnya. Ia mengakui bahwa memang sesuai penemuan bangsa Arab dulunya dalam masa salju pertama pada masa awal permulaannya memang mempunyai tanaman perkebunan dengan sungai-sungai mengalir seperti yang disabdakan Rasulullah SAW, tapi ia menolak mengakui pengetahuan itu datangnya dari Allah dan menganggap Rasulullah diberitahu bangsa Romawi Kuno yang telah maju pengetahuannya. Tapi ia tak bisa mengelak saat ditanyakan kemungkinan kembali suburnya bangsa Arab (sesuai hadits Rasul tadi dan sesuai pengakuan hakekat ilmiah bahwa jaman salju kedua telah dimulai) dan mengatakan bahwa bangsa Romawi Kuno tak mungkin tahu, kecuali hanya wahyu dari langit.
RAHASIA KEHIDUPAN
Dalam surat Al-Anbiyaa’ ayat 30 Allah memberitahu kita tentang salah satu zat yang mempunyai peranan besar dalam kehidupan yaitu air. Dan hal ini sekarang ssudah menjadi hakekat ilmiah yang diketahui seluruh dunia. Para ilmuan dapat menyatakan bahwa tidak ada kehidupan di planet lain yang terpantau karena tidak ada tanda-tanda adanya air di sana. Adanya air karena takdir Allah. Dan bagi kita air adalah pemberian dari Allah SWT yang masalah penanganan dan pengadaannya tidak dicampurtangani manusia.
KEAJAIBAN PENCIPTAAN LANGIT DAN BUMI SEBAGAI BUKTI WUJUD ALLAH
Banyak sekali dalil-dalil yang menjelaskan keajaiban penciptaan pada langit dan bumi sebagai bukti wujud Allah yang telah dibuktikan kebenarannya oleh para ilmuwan di dunia. Seperti pada surat Fushshilat ayat 11 tentang langit yang berasal dari asap. Surat Al-Hadiid tentang besi yang terdapat kekuatan hebat dan berbagai manfaat. Surat Ar-Rahman ayat 19-20 dan surat An-Nuur ayat 40 tentang keajaiban laut dan pemisah tingkatannya. Surat An-Naba’ ayat 6-7 tentang gunung-gunung sebagai pasak. Hingga pada surat Ar-Ruum ayat 1-3 tentang lokasi perang bangsa Romawi dan Persia yang bertempat di Palestina. Yang semua ayat tersebut dapat menjawab ilmu pengetahuan modern sekarang apabila dicari maknanya. Semua dalil telah diungkapkan orang-orang yang tidak beriman namun mereka masih saja menolak keimanan walaupun sudah membuktikan sendiri keajaiban Al-Qur’an.



Bab VI
DALAM SEGALA SESUATU ADA DALIL

MUKJIZAT AL-QUR’AN TIDAK AKAN PERNAH BERAKHIR
Allah SWT menjadikan Al-Qur’an sebagai mukjizat yang tidak akan pernah berakhir sampai hari kiamat tiba. Zaman mukjizat memang telah berakhir, tetapi tidak dengan Al-Qur’an yang tidak akan berakhir sampai hari kiamat. Segala ketentuan yang menyangkut peribadatan, muamalat, dan hal yang berkaitan dengan perintah dan larangan telah diuraikan secara jelas dan gamblang oleh Rasulullah SAW. Akan tetapi mukjizat Al-Qur’an secara bertahap akan terus bermunculan untuk memberi makna yang ajaib di setiap jaman.
PENGENALAN BENDA SEBAGAI PELAJARAN DASAR
Dalam surat Al-Baqarah ayat 31 Allah telah menjelaskan sistem pelajaran ilmu pengetahuan yang paling mendasar bagi manusia, yaitu dengan mengenalkan nama-nama benda terlebih dahulu. Seperti yang dilakukan Allah pada nabi Adam. Aplikasinya telah kita lihat di kehidupan sekarang, bukan hanya di pendidikan formal, bahkan seorang ibu baik yang terpelajar maupun tidak akan tetap mengenalkan nama-nama benda terlebih dahulu pada anaknya. Tanpa pengenalan nama-nama tidak akan terjalin saling pengertian dan pemahaman dalam pemberian pelajaran.
ADAM MENDENGAR LALU BERBICARA
Apabila seseorang dapat mendengar maka dia dapat berbicara. Seorang bayi Arab yang dibesarkan dilingkungan Inggris dimana semuanya berbicara bahasa Inggris hanya akan mengerti bahasa Inggris dan tidak mengerti bahasa Arab meski dia lahir di Arab. Setelah Allah SWT menciptakan Adam dan kemudian Hawa, pasti di antara mereka terdapat cara berkomunikasi. Pendapat yang mengatakan manusia dulunya menggunakan isarat untuk komunikasi adalah salah, karena jika manusia pertama tidak berbicara dan menggunakan isarat, maka hingga sekarang tentu manusia tidak akan bisa bicara. Buktinya seseorang yang terlahir tuli tidak akan bisa bicara hingga dikatakan ‘tuli bisu’. Bicara bukanlah suatu sifat yang diwariskan secara langsung, melainkan hasil mendengar.
ALLAH BUKTI ATAS WUJUD ALLAH
Salah satu kaidah bahasa adalah bahwa sesuatu diketahui artinya lebih dulu baru ditetapkan ucapan atau namanya dengan lafadz tertentu. Lembaga-lembaga bahasa di seluruh dunia setiap saat menambah kata-kata baru yang arti-artinya tidak diketahui sebelumnya. Betapapun akal manusia, dia tidak akan mampu memahami suatu kata apabila artinya tidak diketahuinya. Allah SWT gaib dari kita dan tidak bisa dilihat oleh siapapun, akan tetapi kata-kata “Allah” terdapat pada seluruh bahasa dunia dan dikenali oleh setiap akal manusia. Surat Al-A’raaf ayat 172 menunjukkan bahwa Allah secara tegas telah memberi kesaksian tentang diri-Nya bagi kita, oleh karena itu ketika disebut katta-kata “Allah” kitapun langsung memahaminya, karena sewaktu di alam gaib dulu sudah pernah memberi kesaksian tentang-Nya.
BERTAMBAHNYA JUMLAH MANUSIA SEBAGAI BUKTI ATAS WUJUD ALLAH
Bukti statistik tentang wujud Allah salah satunya adalah jumlah manusia yang terus bertambah. Allah SWT memberitahu kita bahwa penciptaan manusia berawal dari seorang laki-laki dan perempuan yaitu Adam dan Hawa. Bukti material dari hal tersebut dapat kita kaji dari perkembangan jumlah manusia dari waktu ke waktu secara statistik. Saat ini jumlah manusia di bumi mencapai milyaran. Tentu populasi pada beberapa abad yang lalu lebih sedikit. Bahkan beberapa puluh abad sebelumnya juga semakin susut dan berkurang jumlahnya. Hingga sampai di titik permulaan akan didapatkan bahwa manusia berasal dari sepasang laki-laki dan perempuan.
IBRAH DAN BUKTI ATAS WUJUD ALLAH DALAM LINTASAN SEJARAH
Apa yang diceritakan pada surat Al-Fiil ayat 1-5 adalah suatu mukjizat yang tidak dilahirkan oleh seorang rasul. Ayat-ayat ini tidak diturunkan untuk menanamkan keimanan bagi kaum Muhammad yang tidak mau beriman terhadap seruan beliau, akan tetapi diturunkan untuk memantapkan kesucian dan menunjukkan terlindungnya Baitil Haram Ka’bah. Peristiwa itu juga satu mukjizat yang menandakan bahwa agama Allah yang akan diturunkan kepada Rasulullah SAW tetap akan dipelihara dan dilindungi-Nya walaupun seluruh manusia mengabaikannya. Kisah dalam ayat-ayat itu jelas akan ditolak oleh akal pikiran orang-orang yang tidak beriman. Apalagi mereka sendiri tidak menyaksikan langsung peristiwanya. Bagaimana mungkin burung yang sekecil itu dapat memusnahkan bala tentara yang sedemikian kuat, apalagi bala tentara itu didukung oleh pasukan kavaleri bergajah. Kaum kafir berusia lanjut yang menentang ajaran Rasul saat itu sudah pernah menyaksikan serangan pasukan bergajah, tapi mereka tidak membantah ataupun menyanggah ayat-ayat ini. Peristiwa gajah ini, seperti halnya peristiwa perang Romawi-Persia telah menambah bukti-bukti material atas wujud Allah SWT.
KISAH HYKSOS DAN KERAJAAN FIR’AUN DALAM AL-QUR’AN ADALAH BUKTI MATERIAL ATAS WUJUD ALLAH
Di dalam Al-Qur’an telah diceritakan bahwa pada masa Nabi Musa as. yang berkuasa di Mesir disebut Fir’aun, sedangkan yang berkuasa di Mesir pada masa Nabi Yusuf as. disebut Malik. Jaman berlalu dan apa yang dikabarkan Al-Qur’an ini terbukti berdasarkan analisi dari petunjuk seperti prasasti dan sebagainya yang masih ada dan kajian rumus bahasa Mesir kuno akhirnya dapat dipastikan bahwa Yusuf as. hidup di Mesir pada masa pendudukan kaum Hyksos. Akan tetapi akhirnya bangsa Mesir berhasil mengusir Hyksos, dan dinasti Fir’aun kembali berkuasa. Allah SWT memaparkan rahasia kerajaan dan kekuasaannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan membeberkan apa yang dikehendaki dari ilmu-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya.
PENYAKIT DAN OBATNYA, BUKTI MATERIAL ATAS WUJUD ALLAH
Firman Allah surat Asy-Syu’ara ayat 80 telah memancing perdebatan, karena ada yang berpendapat bahwa dokterlah yang menyembuhkan penyakit. Sebenarnya yang dapat menyembuhkan penyakit adalah Allah SWT saja. Allah menurunkan obat bagi setiap penyakit. Karena itu terkadang seorang dokter baru justru dapat memberi obat yang tepat pada pasien dibanding gurunya yang sudah pasti lebih pandai karena lebih berpengalaman. Akan tetapi bukan berarti kita tidak perlu lagi berusaha untuk berobat. Dalam kehidupan ini Allah menyuruh kita untuk berikhtiar, kita cari sebab dan obatnya, barulah bertawakal dalam mengharapkan hasilnya.
PEMBUATAN SUSU, BUKTI MATERIAL ATAS WUJUD ALLAH

Apa saja yang kita minum berasal dari Allah SWT. Dengan kodrat Allah, air turun dari langit terasa tawar dan mudah diminum. Susu diperah dari hewan ternak ciptaan Allah SWT dan menyehatkan. Ilmu pengetahuan modern berusaha membuat susu tiruan dengan meramu unsur-unsur yang serupa dengan unsur yang terdapat pada susu murni. Tapi hingga sekarang ilmu pengetahuan mutakhir belum mampu membuat setetes pun susu buatan yang sama dengan susu asli. Selain itu masih ada jenis minuman lain yang diciptakan Allah SWT, contohnya minuman yang terkandung di berbagai buah-buahan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar