Bukti-Bukti Adanya
Allah
Book Summary
Oleh
Kasmundari
Nama : Kasmundari
NIM : A1B214020
Program Studi : Pendidikan Bahasa Inggris
Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Judul Buku : Bukti-Bukti Adanya Allah
Pengarang : Prof. Dr. M. Mutawalli Asy-Sya’rawi
Penerjemah : A. Aziz Salim Basyarahil
Penerbit : Gema Insani Press
Tahun Terbit : 1992
Kota Terbit : Jakarta
Bab
I
SEBAB-SEBAB WUJUD
BUKTI PERTAMA: MAKHLUK
Bukti nyata yang dapat dengan mudah
kita temui mengenai bukti-bukti adanya Allah adalah makhluk. Itulah bukti yang
sepanjang siang dan malam selalu berada di hadapan kita dan dapat kita rasakan
langsung keberadaannya sehari-hari. Ada benda-benda yang kondisinya secara
fisik jauh lebih kuat dari kemampuan manusia, akan tetapi diciptakan Allah
untuk mengabdi kepada manusia dan untuk memenuhi kebutuhan serta kepentingan
manusia tanpa pamrih. Alam semesta memiliki kemampuan untuk tidak tunduk kepada
kita atau kepada kemauan dan perintah manusia. Alam semesta semata-mata hanya
tunduk kepada kekuatan dan kemampuan penciptanya serta tidak mampu menentang
perintah atau kekuasaan penciptanya. Sebagai contoh, matahari yang tidak mampu
terbit dan terbenam semaunya sendiri.
MEMBATALKAN
KERAGUAN DAN KEBOHONGAN
Masalah makhluk hanya teratasi oleh
Allah SWT semata tanpa dapat dibantah atau
disanggah oleh kemampuan akal manusia. Jika ada orang yang berpendapat bahwa alam ini tercipta karena kebetulan, ataupun berasumsi bahwa manusia berasal dari kera, sungguh itu merupakan suatu teori yang penuh kebodohan. Tanpa perlu memasuki perdebatan yang tidak ada faedahnya, kita katakan kepada mereka bahwa teori-teori mereka yang salah dan menyesatkan telah membenarkan apa yang tercantum dalam Al-Qur’an, bahwa akan ada manusia yang menyesatkan (manusia lain) sehubungan dengan penciptaan langit, bumi, dan manusia. Allah sendirilah yang berfirman bahwa Dia-lah pencipta segala makhluk, tidak ada yang lain.
disanggah oleh kemampuan akal manusia. Jika ada orang yang berpendapat bahwa alam ini tercipta karena kebetulan, ataupun berasumsi bahwa manusia berasal dari kera, sungguh itu merupakan suatu teori yang penuh kebodohan. Tanpa perlu memasuki perdebatan yang tidak ada faedahnya, kita katakan kepada mereka bahwa teori-teori mereka yang salah dan menyesatkan telah membenarkan apa yang tercantum dalam Al-Qur’an, bahwa akan ada manusia yang menyesatkan (manusia lain) sehubungan dengan penciptaan langit, bumi, dan manusia. Allah sendirilah yang berfirman bahwa Dia-lah pencipta segala makhluk, tidak ada yang lain.
PENCIPTA
SEGALA SESUATU
Pada surat Al-‘Ankabut ayat 61 dan 63, telah
dijelaskan bahwa sesungguhnya orang-orang kafir dan musyrik tidak membantah
hakekat penciptaan alam dan manusia oleh Allah. Namun tidak hanya alam saja,
segala sesuatu yang ada di alam wujud (dhahir) ini Allah-lah Yang Maha
Penciptanya. Manusia hanya mampu meningkatkan mutu dan memperbanyak produksi seperti
pada penemuan ilmiah. Sesungguhnya Allah yang menciptakan atau mengadakan
semuanya, dan manusia hanya mengembangkannya dari yang sudah ada, tidak satupun
yang berasal dari yang tidak ada.
TANTANGAN
Allah telah berfirman pada surat
Al-Hajj ayat 73 yang dengan nada menantang. Meski manusia telah berhasil
menginjakkan kaki ke bulan, dan berbagai penemuan-penemuan lainnya, tapi tetap
tak satupun dari mereka yang bisa menciptakan bahkan seekor lalatpun. Segala
sesuatu di alam ini beserta segala hukum dan peraturan alamnya merupakan atas
ketetapan Allah.
KEBEBASAN
TAKDIR DAN HUKUM ALAM
Allah telah menyertakan kepada alam
bukti-bukti tentang kebebasan takdir-Nya, tapi bukan dalam hukum alam. Sebab
apabila Allah SWT memberikan kebebasan takdirnya dalam hukum alam, maka
matahari akan bebas terbit dan terbenam dalam sehari atau beberapa hari,
ataupun bumi akan bebas beredar dan berotasi ataupun berhenti. Perubahan sistem
seperti itu tentu akan merusak dan membinasakan alam semesta ini. Oleh karena
itu untuk kesempurnaan makhluk, maka hukum alam yang asasi berlangsung tetap
dan tidak berubah. Akan tetapi tidak sulit bagi Allah SWT untuk mengubah dan
menyimpangkan dari hukum yang telah tetap dan pasti.
PENCERMINAN
KEBEBASAN TAKDIR PADA MANUSIA
Allah SWT menempatkan dalam hukum
kausal bahwa bila laki-laki bersetubuh dengan perempuan maka lahirlah anak.
Asal mula dari keseluruhan manusia adalah laki-laki dan perempuan. Tetapi Allah
SWT dengan kebebasan takdir-Nya telah menciptakan Adam as. tanpa laki-laki dan
tanpa perempuan, menciptakan Isa as. dari perempuan tanpa laki-laki. Kejadian
tersebut hanya sekali dan tidak berulang, tapi cukup membuktikan bahwa Allah
SWT bebas untuk menentukan takdirnya.
KEBEBASAN
TAKDIR PADA ALAM YANG TAMPAK
Allah SWT telah menakdirkan daerah-daerah
tertentu mempunyai curah hujan yang tinggi sementara daerah lainnya kering dan
jarang turun hujan. Namun ada kalanya daerah dengan curah hujan tinggi
mengalami musim kemarau terus menerus beberapa tahun, meski tidak selamanya.
Hal ini membuktikan bahwa turunnya hujan tidak tunduk kepada hukum kausal saja
tapi lebih ditentukan oleh kebebasan takdir-Nya. Allah SWT diatas segala sebab,
dan Dia-lah yang menyebabkan perubahan serta pergantian segala hal sesuai
dengan kemauan dan kehendak-Nya.
KEBEBASAN
TAKDIR PADA TUMBUH-TUMBUHAN
Manusia menanam tumbuh-tumbuhan dan
Allah SWT yang menumbuhkannya. Lahan tanaman dapat ditimpa kerusakan yang
bahkan dengan ilmu pengetahuan yang tinggi pun tidak diketahui sebabnya. Karena
sesungguhnya yang menyebabkan lahan berkurang kesuburannya dan tidak
menumbuhkan tanaman yang menghasilkan bukan karena hal-hal yang telah diketahui
saja, tetapi lebih utama karena takdir Allah SWT yang diatas segala sebab.
KEBEBASAN
TAKDIR PADA HEWAN
Kebebasan takdir Allah SWT pada hewan
sudah jelas sekali. Banyak hewan yang jauh lebih kuat dari manusia tapi justru
tunduk demi kepentingan manusia, seperti unta, kuda, sapi dan sebagainya. Bukan
kuasa manusia yang bisa menjinakkan mereka, karena jika iya maka seharusnya
manusia pun bisa menjinakkan ular, srigala, pelanduk, dan sebagainya. Allah-lah
yang melumpuhkan kekuatan hewan-hewan kekar itu agar mengabdi kepada manusia.
KEBEBASAN
TAKDIR ALLAH PADA BENDA
Allah SWT telah menakdirkan tanah
agar padat dan dapat ditinggali manusia. Meski terkadang permukaan tanah
menjadi labil, seperti terjadinya gunung meletus ataupun gempa bumi. Allah
memang telah membuka ilmu pengetahuannya dan membuat manusia mengetahui atau
memprediksi sebagian kecil bencana alam, namun tidak selamanya manusia dapat
mengetahui kapan bencana akan terjadi. Sebaliknya, hewan-hewan yang tak
memiliki akal dan ilmu pengetahuan setinggi manusia, tapi mereka dapat
merasakan apabila akan terjadi bencanadan akan meninggalkan sarangnya atau akan
ribut dan gaduh sebelum datangnya bencana. Inilah peringatan dari Allah SWT
agar kita tidak terlalu memuja ilmu pengetahuan. Agar kita tidak melupakan
kebesaran Allah karena kemajuan ilmu pengetahuan.
Bab
II
BUKTI-BUKTI PADA DIRI MANUSIA
BUKTI
KEDUA: PERJANJIAN
Apabila kita mau mengamati dan
meneliti tubuh kita dengan seksama, pasti kita akan mengetahui bahwa dalam diri
kita banyak terdapat bukti-bukti keagungan dan kebesaran kekuasaan Allah SWT.
Kita mengetahui apa-apa yang dihalalkan dan diharamkan Allah SWT. Dan kita juga
mengetahui bagaimana kondisi hati manusia pada umumnya terhadap apa yang
diperbuatnya. Sebagai contoh, sepasang suami istri akan dengan santainya keluar
masuk rumah mereka berdua maupun bepergian berdua dengan saling berdekatan. Hal
ini berbeda apabila laki-laki dn perempuan yang bukan suami isteri yang
melakukannya. Mereka apabila hanya berduaan di suatu ruangan akan mengunci
semua pintu dan jendela karena merasa takut ada yang melihat, ataupun mereka
akan menghindari keramaian apabila berduaan. Tampak sekali perbedaan antara
keduanya. Perbedaannya adalah menyangkut halal dan haram. Yang dihalalkan Allah
cocok dan diterima oleh semua orang, sedangkan yang diharamkan-Nya diingkari
serta ditolak oleh nafsu manusia.
BATASAN
KEBAIKAN DAN KEJAHATAN
Pada firman Allah surat Al-A’raaf
ayat 172 telah memberikan tafsir tunggal mengenai batasan kebaikan dan
kejahatan, yang telah diletakkan ke dalam diri kita secara fitrah. Oleh karena
hal itu merupakan pemberian rububiyyah (yang berhubungan dengan penciptaan),
dan batasan tersebut terdapat pada seluruh jiwa umat manusia, maka sesungguhnya
Allah SWT adalah Rabb seluruh umat manusia, baik yang beriman maupun yang
kafir.
BERIMAN
KEPADA YANG GAIB
Allah SWT itu gaib, tidak dapat
dilihat. Keimanan bukanlah penglihatan. Keiimanan adalah sikap membenarkan
terhadap yang gaib. Dalam jasad kita terdapat roh yang memberi kita gerak serta
kehidupan. Semua orang yakin ada sesuatu dalam tubuhnya yang bernama roh, yang
apabila keluar dari jasadnya maka berhentilah gerakannya dan berakhirlah kehidupannya.
Tidak ada yang pernah melihat roh ataupun mengetahui dimana letaknya di dalam
tubuh. Akan tetapi kita tahu keberadaannya berdasarkan pengaruh yang
ditimbulkannya. Begitu pula dengan Allah. Kita yakin dengan adanya alam beserta
makhluk-makhluk penghuninya yang menakjubkan merupakan bukti adanya wujud
Allah.
KEWENANGAN
ALLAH
Kita bukanlah penguasa atas diri
kita sendiri. Tubuh kita adalah milik Allah, dan Dia dapat berbuat apa saja
yang dikenhendaki-Nya terhadap tubuh kita, kecuali yang diserahkan kepada kita
untuk menjadi pilihan kita. Bukan kita yang mengendalikan detak jantung kita.
Ada orang yang memiliki dua mata yang terbuka tapi tak bisa melihat. Kita
melihat dengan mata tapi Allah-lah yang memberi wewenang untuk melihat karena
Allah-lah Sang Pemberi mata kepada kita. Begitu pula kaki, lidah, telinga, dan
anggota tubuh lainnya.
ANGGOTA
TUBUH TUNDUK KEPADA MANUSIA DENGAN IZIN ALLAH SWT
Allah SWT membuktika bahwa
gerakan-gerakan yang kita inginkan tidak akan terlaksana dengan sempurna
kecuali dengan izin Allah SWT. Kita hanya punya niat melakukan sesuatu dan
otot-otot kita bergerak dengan wewenang Allah SWT tanpa kita ketahui atau
sadari, sama sekali bukan dengan kemauan kita.
TAWA
DAN TANGIS DARI ALLAH SWT
Datangnya tawa dan tangis dari
Allah SWT, karena itu maka pemberian itu berlaku bagi semua umat manusia. Hal
ini sebagai salah satu bukti keadilan Allah SWT. Di seluruh dunia apabila
diperhatikan model tawa dan tangis yang diciptakan bagi manusia semuanya sama
meski bahasa dan bangsa mereka berbeda. Tawa dan tangis yang berbeda hanyalah
yang dibuat-buat bukan dalam arti yang sebenarnya. Manusia akan tertawa saat
gembira atau karena hal yang lucu, ataupun akan menangis saat sedih, meski
hal-hal yang menyebabkan tawa atau tangis itu berbeda. Manusia tidak bisa
memerintahkan dirinya untuk tertawa atau menangis dalam arti yang sebenarnya
tanpa dibuat-buat. Itu semua dari Allah SWT dan tidak bisa dikendalikan oleh
kemauan manusia.
AMAL
PERBUATAN MANUSIA DENGAN HIKMAH TAKDIR PENCIPTAANNYA
Kita tidak bisa berkata bahwa
kitalah yang menguasai tubuh kita sepenuhnya tanpa campur tangan Allah, atau
dengan kata lain tidak beriman kepada Allah, karena ketika Allah memberi tubuh
kita suatu penyakit maka kita tidak kuasa untuk menolak ataupun mencegahnya.
Begitupun dengan segala rencana yang akan kita lakukan, semua dapat terjadi
atas izin Allah. Takdir Allah akan tetap berjalan walaupun bertentangan dengan
kehendak kita. Kita pasti akan tunduk dengan takdir Allah, walaupun dengan suka
rela atau terpaksa. Bila datang perintah dari Maha Penyebab yaitu Allah SWT
untuk mengakhiri hidup seseorang manusia, maka berakhirlah umur manusia
tersebut.
DALAM
KEHIDUPANNYA YANG SINGKAT MANUSIA TIDAK MEMILIKI SESUATU DARI MUKJIZAT
AL-QUR’AN
Setiap orang memiliki kekuatan dan
kemampuan akal yang berbeda. Apabila diadakan suatu pembahasan ilmu pengetahuan
tertentu, tentunya tidak semua orang akan memahaminya karena perbedaan ilmu
yang dimiliki tiap-tiapnya. Itulah kondisi akal manusia dalam menghadapi
ilmu-ilmu keduniaan. Lain halnya apabila yang dibahas adalah Al-Quran firman
Allah SWT, maka dapat dipastikan seluruh jiwa yang beriman akan cocok
menerimanya. Ataupun apabila telah datang waktu shalat, semua berdiri serasi di
belakang imam dan hilanglah tabir pembeda urusan keduniaan yang ada di antara
mereka. Yang mempersatukan mereka bukanlah ikatan ilmu pengetahuan atau
kebudayaan, tetapi ikatan iman.
KEAJAIBAN
PADA MAKHLUK MANUSIA
Manusia punya kelebihan dengan
memiliki sidik jari yang masing-masing berbeda dengan milyaran manusia lainnya,
begitu juga dengan bau badan yang khas tiap manusia dan juga sidik suara yang
berbeda. Kekhasan ini dimaksudkan untuk menjadi petunjuk di hari kebangkitan
bahwa orang yang bersangkutanlah yang dimaksud. Selain itu, Allah SWT juga
meletakkan keajaiban dalam diri kita terhadap putera-puteri lita. Ada yang
hidup lebih lama dengan ibu bapaknya tapi memperoleh kasih sayang yang relatif
kurang dan ada yang hidup dengan lebih pendek dengan ibu bapaknya memperoleh
kasih sayang yang relatif lebih banyak. Inilah bukti-bukti kebesaran Allah SWT.
Bab
III
BUKTI GAIB
GAIB
NISBI DAN GAIB MUTLAK
Ada perbedaan antara sesuatu yang
wujud dengan kamampuan kita untuk mengetahui sesuatu yang wujud. Dan rahmat
Allah-lah yang menyebabkan kita menyadari dengan akal kita bahwa yang semula
kita duga tidak ada ternyata ada. Gaib itu ada dua macam, yaitu gaib nisbi
(relatif) dan gaib mutlak. Gaib nisbi adalah sesuatu yang tidak kita ketahui
tetapi ada orang lain yang mengetahuinya. Contohnya saat kita kemalingan, kita
tidak mengetahui siapa yang mencuri dan dimana barang kita yang dicuri, tetapi
para pencuri itu mengetahuinya. Adapun gaib mutlak hanya Allah-lah yang
mengetahuinya.
BUKTI
KETIGA: BUKTI TENTANG WUJUD ALLAH DARI KEKHUSUSAN JIWA MANUSIA
Allah SWT mengetahui segala yang
gaib dan yang tersembunyi dalam jiwa manusia, dan Allah SWT juga menguasainya
sepenuhnya. Perasaan hati, pertimbangan batin, serta akal pikiran manusia
sepenuhnya berada di tangan Allah SWT, dan Allah hanya memberi kita yang
sekedar dikehendaki-Nya saja. Memang manusia bebas memilih dalam hal pengamalan
hukum dan peraturan Allah, akan tetapi tidak bebas secara mutlak. Manusia
diberi kebebasan untuk memenuhi atau tidak mematuhi ajaran Allah SWT. Beriman
atau kufur. Contohnya seperti apa yang terjadi pada Abu Lahab yang mengambil
kalan kekafiran sebagai pilihannya, meski jika dilihat dari segi peluang Abu
Lahab pun mempunyai kemungkinan untuk masuk Islam sebagaimana tokoh kafir lain
yang mendapat hidayah dan masuk Islam seperti Abu Sofyan, Kholid bin Walid,
Ikrimah bin Abi Jahal, dll.
PENGALIHAN
ARAH KIBLAT
Ketika kiblat ke Baitil Maqdis
dialihkan arahnya ke Ka’bah Al-Musyaraffah, turunlah surat Al-Baqarah ayat 142
yang menerangkan perihal sikap kaum yang bukan mukmin yang terbaca oleh Allah
SWT sebelummereka menunjukkan sikap (mengucapkan kata-kata) daimaksud. Dan pada
akhirnya olok-olokan mereka itu terbukti, sebagaimana yang diterangkan
Al-Qura’an sebelumnya. Apa yang menjadi urusan dan gaib dari Allah SWT pasti
terlaksana meskipun hasrat dan kemauan manusia tidak sejalan dengannya.
KISAH
ORANG-ORANG MUNAFIK
Firman Allah surat Al-Baqarah ayat
235 yang mengatakan bahwa Allah mengetahui apa yang ada di hati kita. Orang
tidak beriman yang tidak mempercayai kata-kata ini mempertanyakan bukti
keilmiahannya. Lalu turun pula surat Al-Munaafiquun ayat 1 yang menceritakan
beberapa orang munafik yang menemui Rasulullah SAW untuk menyatakan keislaman
mereka, mengakui bahwa sesungguhnya Muhammad benar-benar Raulullah. Dan Allah
mengetahui isi hati mereka bahwa mereka orang-orang munafik itu benar-benar
pendusta. Allah mengetahui rahasia dan bahkan yang lebih tersembunyi.
PERANG
PERSIA DAN ROMAWI
Bukti material lain lagi yang
berkaitan dengan alam gaib adalah surat Ar-Ruum ayat 1-4 dan perang antara
Persia dan Romawi yang diceritakannya. Dalam surat itu Allah mengatakan bahwa
Romawi akan kalah, lalu menang beberapa tahun lagi. Memang benar bahwa perang
antar keduanya dimenangkan oleh Persia yang rakyatnya terkenal sebagai
penyembah api dan berhala menjadi bergembira. Turunnya ayat itu membuat kaum
mukmin yang awalnya bersedih akibat kekalahan menjadi tenang dan hilang
kesedihannya. Meski tujuh tahun setelahnya tetap tak terjadi apa-apa,
Rasulullah SAW menjawab bahwa ‘beberapa’ tahun yang dijanjikan Allah itu
berarti ‘kurang dari sepuluh tahun’, dan dua tahun setelahnya Kerajaan Romawi
akhirnya menghancurkan Persia. Inilah bukti maaterial dari Allah SWT, bahwa
Allah mengetahui yang gaib di langit dan di bumi dengan ilmul yakin.
HAL
YANG TIDAK DIALAMI BUKAN BERARTI TIDAK ADA
Apabila kita tidak mengalami
sesuatu maka tidak berarti bahwa hal tersebut tidak ada. Allah telah memberikan
bukti material, di samping bukti keimanan, bahwa gaib itu ada. Allah SWT
memberitahukan bahwa malaikat, jin, dan neraka itu ada, dan semuanya termasuk
gaib. Kita pasti dan harus meyakini kebenarannya meskipun yang gaib belum
pernah kita saksikan dan alami karena yang memberitahu hal tersebut adalah
Allah SWT. Seperti contohnya kuman dan bakteri yang menyerang tubuh manusia dan
menimbulkan penyakit. Dulu berabad-abad sebelum ilmu pengetahuan membuat kita
mengenai keberadaan kuman dan bakteri, hal itu merupakan sesuatu yang gaib bagi
kita. Tak ada yang tahu bahwa yang menyebabkan sakit adalah kuman dan bakteri,
sehingga dahulu orang mengira bahwa penyakit disebabkan oleh roh-roh jahat.
Tapi seiring perkembangan teknologi kita tahu keberadaan bakteri di sekitar
kita, bahkan kita melihat dan mengetahui aktivitasnya seperti bergerak,
berkembang biak, menyerang, dan bertempur. Bahkan penemuan terhadap teleskop
raksasa dan canggih sekarang ini juga membuka tabir pengetahuan tentang
planet-planet yang dulunya tidak diketahui keberadaannya.
KEHIDUPAN
MANUSIA MENJADI SAKSI ATAS DIRINYA
Allah menghendaki agar kita menjadi
saksi atas apa yang terjadi pada diri kita sendiri, sehingga kelak di hari
kiamat tidak ada alasan kita tak mengenal yang gaib karena tidak diberi Allah
SWT bukti material tentang yang gaib itu pada kita. Allah menganugerahi manusia
kemampuan untuk mewarisi peradaban dan budaya, serta mengembangkannya.
Kemampuan khusus ini tak dimiliki hewan dan tumbuhan sehingga tingkat kemampuan
keduanya tergantung pada daya upaya pikiran manusia. Allah SWT memberitahu kita
bahwa peradaban umat akan semakin meningkat dengan diungkapkannya hukum,
peraturan, dan ketentuan-ketentuan alam ini oleh-Nya.
SEMUA
YANG DI DALAM TANAH
Firman Allah surat Thaha ayat 6
mengatakan “Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi,
semua yang di antara keduanya, dan semua yang di bawah tanah”. Ayat ini turun
lebih dari empat abad yang lalu di mana tak ada seorang pun yang tahu arti ‘dan
semua yang di dalam tanah’. Apa yang ada di dalam tanah masih gaib bagi
manusia. Lalu terungkap bahwa dalam perut bumi ini mengandung kekayaan yang melimpah seperti minyak bumi,
emas, besi, dan mineral lainnya, serta benda-benda berharga lainnya, juga
aliran sungai di bawah tanah. Benda-benda dan kekayaan itu sudah ada sejak
jaman dahulu, tapi baru ditemukan pada abad ini.
Bab
IV
DI BUMI JUGA ADA AYAT-AYAT ALLAH
APAKAH
MEREKA TIDAK MEMPERHATIKAN?
Allah SWT memiliki ayat-ayat (bukti
kekuasaan) yang memadati bumi dan langit, akan tetapi kebanyakan manusia
melalaikannya. Dalam surat Faathir ayat 28 dikatanyan bahwa sesungguhnya yang
takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama. Ulama yang
dimaksudkan di sini ialah orang-orang yang mengetahui kebesaran dan kekuasaan
Allah, atau bisa disebut ilmuan. Mereka yang mengkaji ciptaan-ciptaan Allah SWT
di alam semesta ini, baik itu yang ditemukan saat berada di jalan datar,
mendaki gunung, menyelam ke dasar lautan, terbang ke luar angkasa, ataupun
memasuki perut bumi. Seharusnya mereka-lah orang-orang pertama yang bersujud
dan beribadah kepada Allah, tetapi mereka ternyata justru menodai agama dan
keimanan, karena menganggap dirinya telah mengetahui rahasia-rahasia alam.
HUKUM
JAGA DAN TIDUR
Pada saat bangun (terjaga) manusia
harus tunduk kepada aturan-aturan yang diketahui sebagiannya, contohnya waktu.
Tetapi apabila tidur, dia berpindah pada hukum dan peraturan yang sama sekali
berbeda dan tidak diketahuinya. Kita tidak bisa merasakan perjalanan waktu saat
itu. Karena waktu adalah ukuran bagi kejadian-kejadian, sedangkan orang yang
tidur lepas dari kejadian-kejadian. Orang yang tidur memejamkan matanya, tapi
mereka juga bergerak, berjalan, berlari, berbicara, bertemu dengan orang-orang
yang sudah mati dan berbicara dengannya, tetapi tanpa menginggalkan tempat
tidurnya atau bergerak sedikitpun. Kejadian-kejadian yang dialami manusia dalam
alam tidur tidak dapat dimengerti dan dijangkau oleh ilmu pengetahuan. Yang ada
hanyalah dugaan-dugaan dan khayalan mengenainya.
PENYEBAB
PEMBANGKANGAN TERHADAP MANHAJ ALLAH
Meski bukti petunjuk ke jalan
keimanan tak terhitung banyaknya, orang-orang ingkar tetap tak mau beriman
karena dasarnya mereka ingin dapat membuat sumber syariat sendiri sebagai wujud
keserakahannya. Manhaj Allah berdiri tegak atas landasan keadilan bagi seluruh
umat manusia dengan menjamin hak masing-masing, sedangkan manhaj manusia lebih
cenderung mengambil hak orang lain. Seperti pertarungan sengit lebih dari satu
abad antara ilmuwan dan cendekiawan dengan pihak gereja, yang akhinya membawa
ilmuwan Itali termasyur, Galileo, pada abad kelima belas masehi dihukum mati
oleh gereja dengan dibakar hidup-hidup karena penemuannya yang membuktikan bahwa
bumi ini bulat sedangkan ajaran gereja menganggap bahwa bumi itu datar. Hal itu
karena pihak gereja meyakini sesuai kitab mereka bahwa nabi Adam as. memakan
buah ilmu pengetahuan sewaktu di surga sehingga diusir dari sana. Padahal
menurut pandangan Islam, Nabi Adam memakan buah terlarang karena rayuan dan
tipu daya iblis sehingga sampai terbuka aurat tubuhnya. Begitulah tipu daya
setan, memperindah yang buruk dengan membuka aurat sehingga menyebabkan manusia
terjerumus ke limbah hina dan memalukan.
MANUSIA
SEKEDAR MENEMUKAN, BUKAN MENCIPTAKAN
Segala ilmu pengetahuan berasal
dari Allah SWT yang telah dibukakannya bagi manusia. Manusia hanya sekedar
menemukan, bukan menciptakan dan tidak pula meletakkan dasar-dasar hukum serta
peraturan penciptaan. Allah membukanya bagi mereka yang mencarinya, mengenali,
dan menggunakannya. Allah SWT mengajarkan kepada manusia apa yang tidak
diketahuinya, agar manusia menyadari bahwa segala ilmu adalah dari Allah.
RAHASIA
DIBALIK PEMISAHAN AGAMA DENGAN ILMU PENGETAHUAN
Dalam riset dan penyelidikannya,
para ilmuwan berusaha mengingkari peran agama. Mereka sangat yakin terhadap
kemampuan diri sendiri dan mempunyai ambisi untuk mengklaim bahwa merekalah
yang menciptakan dan mengaturnya. Mereka bersikap demikian bukan karena bukti
material terhadap wujud Allah SWT tidak mereka ketahui dan bukan juga karena
ayat-ayat dan petunjuk Allah SWT tidak sampai kepada mereka, mereka sudah
mengetahui semuanya, tetapi mereka menyombongkan diri terhadap keimanan karena
keinginan mereka untuk mencapai ambisi dan kepentingan pribadi, atau karena
memang tidak meyakini adanya hari akhir dan meyakinkan diri bahwa kenikmatan
duniawi adalah puncak dari segala-galanya.
DAN
KAMI JADIKAN TANDA SIANG ITU TERANG
Secara ilmiah telah dibuktikan
bahwa mata kita dapat melihat sesuatu di siang hari karena ada cahaya dari
matahari yang dipantulkan dan dapat ditangkap oleh retina mata sehingga mata
dapat melihat. Hal ini sesuai dengan firman Allah pada kutipan surat Al-Isra’
ayat 12 yang artinya “Dan Kami jadikan tanda siang itu terang”. Jadi yang
terang itu adalah siangnya, bukan mata. Permasalahan ini cukup memberi bukti
akan tepatnya pemilihan kita untuk beriman kepada Allah Maha Pencipta seluruh
alam semesta.
DAN
KAMI TELAH MENGHAMPARKAN BUMI
Allah telah berfirman pada surat
Al-Hijr ayat 19 yang artinya: “Dan Kami telah menghamparkan bumi”. Ayat itu
jika dilihat sekilas berarti bumi itu datar. Akan tetapi, bila dikaji lebih
lanjut, ayat ini ditujukan kepada bumi secara umum. Artinya, di bagian bumi
mana saja kita berada pasti akan mendapati bentuknya yang berupa hamparan, baik
itu di khatulistiwa, di kutub utara maupun selatan, di Amerika, Eropa, maupun
Asia. Keadaan seperti ini tidak mungkin terjadi kecuali bila bumi ini bentuknya
bulat seperti bola. Bila bumi bersegi atau bentuk lainnya, tentu kita akan
sampai ke tepian bumi dan di sana tidak akan ada hamparan atau bentangan bumi.
Inilah mukjizat Al-Qur’an. Sepatah kata namun mempunyai dimensi yang cocok dan
pas dengan kenyataan dan hakekat alam semesta.
DAN
MALAM PUN TIDAK DAPAT MENDAHULUI SIANG
Penjelasan Al-Qur’an tentang bentuk
bumi yang bulat tidak hanya ada dalam satu ayat, tetapi dalam beberapa ayat.
Seperti pada surat Yaasiin ayat 40 dan surat Al-Furqaan ayat 62. Kedua ayat itu
menjelaskan adanya siang dan malam serta pergantiannya. Bahwa malam tidak dapat
mendahului siang, bahwa malam menggantikan siang dan siang menggantikan malam.
Tiap belahan bumi pasti ada siang dan malamnya. Dan dengan adanya silih
berganti ini, berarti bumi tidak diam tetapi berotasi.
ALLAH
MENUTUPKAN MALAM ATAS SIANG DAN MENUTUPKAN SIANG ATAS MALAM
Itulah keajaiban (mukjizat)
Al-Qur’an yang berisi firman Allah SWT, yang menciptakannya adalah Allah, dan
yang memberitahu kita bahwa bumi kita bulat dan berotasi atau berputar pada
sumbunya adalah Allah. Seperti yang telah dijelaskan pada surat Az-Zumar ayat
5.
ROTASI
BUMI
Bukti lain tentang berotasinya bumi
adalah surat An-Naml ayat 88 yang mengatakan bahwa gunung-gunung berjalan
sebagaimana awan. Tentu kita dapat melihat awan bergerak, tapi tidak dengan
gungung. Kita tahu bahwa awan bergerak tidak dengan sendirinya melainkan karena
angin yang bergerak, begitupun dengan gunung. Gungung yang bergerak karena bumi
itu sendiri yang bergerak, dan kita yang berada di permukaannya tentu tak dapat
melihat dan merasakan pergerakannya. Sesuai dengan firman Allah surat Al-An’aam
ayat 11 yang artinya: “Katakanlah: ‘Berjalanlah di muka bumi’” yang berarti
kita berada di permukaan bumi, di tengah-tengah antara permukaan tanah dan
atmosfir yang mengelilingi bumi, bahkan meskipun kita terbang dengan pesawat
kita tetap berada di muka bumi.
Bab
V
BUKTI-BUKTI MATERIAL DARI AL-QUR’AN
AL-QUR’AN
ADALAH PELINDUNG/PEMELIHARA
Kita tidak hanya bisa mengambil
kebenaran Al-Qur’an berdasarkan bukti ilmiah saja. Karena Al-Qur’an adalah
pelindung, pemelihara, pengamat, dan ‘akhlaq’ yang benar, sedangkan ilmu hanya
sekedar dapat mengungkap kodrat Allah dalam alam. Semua bahasan dalam buku ini
membahas dalil-dalin dan bukti material atau yang ada dalam alam nyata adalah
untuk menyanggah orang-orang yang tidak beriman sehingga mereka tidak dapat
menyanggah lagi. Dengan melakukan pengamatan/pengkajian terhadapa apa-apa yang
ada dalam alam ini berdasarkan kemampuan kita sebagai manusia, dapat dibuktikan
kebenaran ayat-ayat dan keajaiban-keajaiban yang tercantum dalam Al-Qur’an.
TIDAK
ADA PERTENTANGAN ANTARA AL-QUR’AN DENGAN ILMU PENGETAHUAN YANG BENAR
Setiap ada pertentangan antara
Al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan, maka dapat dipastikan penyebabnya adalah
ilmu pengetahuannya yang salah atau karena pemahaman kita terhadap Al-Qur’an
yang tidak benar. Beberapa ilmuwan Barat mengaku bahwa mereka tidak akan
percaya kecuali terhadap apa yang mereka lihat dan saksikan, atau istilahnya
‘seeing is believing’. Menurut mereka ilmu pengetahuan membahas
fenomena-fenomena yang tampak dan terlihat, sedangkan agama membahas
permasalahan-permasalahan gaib yang harus diimani manusia secara taklid.
Menurut mereka, itulah titik pertentangan antara agama dan ilmu pengetahuan.
Bab ini akan membahas beberapa pendapat ilmuwan Barat yang tidak beriman
mengenai pertentangan aga dan ilmu pengetahuan tersebut.
BAGAIMANA
JANIN DALAM RAHIM TERCIPTA
Pada abad ke-17 ilmu pengetahuan
menyatakan bahwa manusia diciptakan sudah dalam bentuk lengkap atau sempurna di
dalam sperma, itu artinya apabila sperma diperbesar maka akan ditemukan bentuk
manusia yang lengkap sempurna, yang berarti penciptaan manusia tanpa melalui
tahap-tahap. Lalu pada abad ke-18 setelah ovum atau sel telur berhasil
diidentifikasi, pendapat itu berubah menjadi bahwa dalam ovum telah terdapat
manusia lengkap, dan sperma hanya sekedar melakukan perkawinan. Pendapat ini
terus bertahan hingga abad ke-20 ilmu pengetahuan modern mengungkapkan penemuan
baru tentang perkembangan janin dalam rahim ibunya, bahkan melalui alat modern
dapat dilihat perubahan dan perkembangan janin. Namun jauh sebelum itu, empat
belas abad yang lalu dimana dunia masih buta sama sekali terhadap proses
pembentukan dan perkembangan janin dalam kandungan, Al-Qur’an telah menerangkannya
secara rinci. Ini tidak mungkin terjadi kecuali jika datangnya penjelasan itu
dari Allah SWT.
PERKEMBANGAN
JANIN MENURUT AL-QUR’AN
Firman Allah SWT surat Al-Mukminun
ayat 12-14 telah menjelaskan secara rinci tentang penciptaan manusia, yang berawal
dari tanah. Para ilmuwan menganalisis tanah dan menemukan bahwa tanah memiliki
delapan belas unsur utama, sama dengan manusia yang dianalisis ternyata
memiliki unsur-unsur yang sama dan juga berjumlah delapan belas. Lalu para ahli
bedah yang mengamati perkembangan embrio dalam kandungan juga mengakui
kebenaran perincian penciptaan manusia dalam surat Al-Mukminun ayat 12-14
tersebut. Semua yang ada dalam ayat tersebut adalah benar adanya dan sesuai
dengan pembuktian ilmuwan-ilmuwan tersebut.
SEORANG
ILMUWAN MASUK ISLAM
Lalu dalam sebuah konferensi
seorang ilmuwan ternama dalam ilmu bedah bernama Prof. Tajatsat Tajasan dari
Muangthai mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan peserta konferensi yang
saat itu membahas saraf manusia. Mereka membahas saraf yang berada tepat di
bawah kulit manusia sehingga apabila terbakar maka hilanglah seluruh rasa yang
biasa menyertainya. Surat An-Nisaa’ ayat 56 yang artinya: “Setiap kulit mereka
hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit lain, supaya mereka merasakan azab”.
Dengan ayat ini Allah SWT menerangkan bahwa azab itu kekal, terus menerus,
tidak diringankan tidak pula dihentikan. Karena Allah SWT tahu bahwa kulit yang
hangus dapat menyebabkan hilangnya rasa sakit, maka bila kulit ahli neraka itu
diganti-Nya maka dapat merasakan azab yang terus-menerus. Sesuai dengan surat
Az-Zukhruf ayat 74-75 bahwa tidak diringankan azab itu dari mereka dan mereka
di dalamnya berputus asa.
DUNIA
SEKARANG MEMPELAJARI APA YANG DIAJARKAN MUHAMMAD SAW EMPAT BELAS ABAD YANG LALU
Pada surat Al-Anbiyaa ayat 30 telah
dikatakan dan dijelaskan bahwa langit dan bumi dulunya adalah suatu kesatuan
yang padu. Hal itu sesuai dengan para ilmuwan yang membuktikan bahwa
unsur-unsur penyusun permukaan bulan adalah sama dengan unsur-unsur penyusun permukaan
bumi. Seorang geolog termasyur dunia bernama Dr. Alfred Krohmer membantah bahwa
mustahil 14 abad yang lalu ada kitab manapun yang mencantumkan hakekat ini.
Akan tetapi apa yang dikatakan Muhammad SAW sejak 14 abad yang lalu benar-benar
merupakan hakekat yang tidak bisa dibantah . ilmu modern pun terpaksa
menetapkan dan membenarkannya.
ITU
ADALAH WAHYU DARI LANGIT
Kelicikan Prof. Alfred Khroner
selalu menghindar memberi kesaksian bahwa ilmu ini (yang tercantum dalam surat
Al-Anbiyaa ayat 30) datang dari Allah. Bahkan hadits Rasulullah SAW mengenai
datangnya kiamat setelah bumi bangsa Arab menjadi ladang rumput dan perkebunan
serta mengalir sungai-sungai sebagaimana sedahulunya juga dibantah olehnya. Ia
mengakui bahwa memang sesuai penemuan bangsa Arab dulunya dalam masa salju
pertama pada masa awal permulaannya memang mempunyai tanaman perkebunan dengan
sungai-sungai mengalir seperti yang disabdakan Rasulullah SAW, tapi ia menolak
mengakui pengetahuan itu datangnya dari Allah dan menganggap Rasulullah
diberitahu bangsa Romawi Kuno yang telah maju pengetahuannya. Tapi ia tak bisa
mengelak saat ditanyakan kemungkinan kembali suburnya bangsa Arab (sesuai
hadits Rasul tadi dan sesuai pengakuan hakekat ilmiah bahwa jaman salju kedua
telah dimulai) dan mengatakan bahwa bangsa Romawi Kuno tak mungkin tahu,
kecuali hanya wahyu dari langit.
RAHASIA
KEHIDUPAN
Dalam surat Al-Anbiyaa’ ayat 30
Allah memberitahu kita tentang salah satu zat yang mempunyai peranan besar
dalam kehidupan yaitu air. Dan hal ini sekarang ssudah menjadi hakekat ilmiah
yang diketahui seluruh dunia. Para ilmuan dapat menyatakan bahwa tidak ada
kehidupan di planet lain yang terpantau karena tidak ada tanda-tanda adanya air
di sana. Adanya air karena takdir Allah. Dan bagi kita air adalah pemberian
dari Allah SWT yang masalah penanganan dan pengadaannya tidak dicampurtangani
manusia.
KEAJAIBAN
PENCIPTAAN LANGIT DAN BUMI SEBAGAI BUKTI WUJUD ALLAH
Banyak sekali dalil-dalil yang
menjelaskan keajaiban penciptaan pada langit dan bumi sebagai bukti wujud Allah
yang telah dibuktikan kebenarannya oleh para ilmuwan di dunia. Seperti pada
surat Fushshilat ayat 11 tentang langit yang berasal dari asap. Surat Al-Hadiid
tentang besi yang terdapat kekuatan hebat dan berbagai manfaat. Surat Ar-Rahman
ayat 19-20 dan surat An-Nuur ayat 40 tentang keajaiban laut dan pemisah
tingkatannya. Surat An-Naba’ ayat 6-7 tentang gunung-gunung sebagai pasak.
Hingga pada surat Ar-Ruum ayat 1-3 tentang lokasi perang bangsa Romawi dan
Persia yang bertempat di Palestina. Yang semua ayat tersebut dapat menjawab
ilmu pengetahuan modern sekarang apabila dicari maknanya. Semua dalil telah
diungkapkan orang-orang yang tidak beriman namun mereka masih saja menolak
keimanan walaupun sudah membuktikan sendiri keajaiban Al-Qur’an.
Bab
VI
DALAM SEGALA SESUATU ADA DALIL
MUKJIZAT
AL-QUR’AN TIDAK AKAN PERNAH BERAKHIR
Allah SWT menjadikan Al-Qur’an
sebagai mukjizat yang tidak akan pernah berakhir sampai hari kiamat tiba. Zaman
mukjizat memang telah berakhir, tetapi tidak dengan Al-Qur’an yang tidak akan
berakhir sampai hari kiamat. Segala ketentuan yang menyangkut peribadatan,
muamalat, dan hal yang berkaitan dengan perintah dan larangan telah diuraikan
secara jelas dan gamblang oleh Rasulullah SAW. Akan tetapi mukjizat Al-Qur’an
secara bertahap akan terus bermunculan untuk memberi makna yang ajaib di setiap
jaman.
PENGENALAN
BENDA SEBAGAI PELAJARAN DASAR
Dalam surat Al-Baqarah ayat 31
Allah telah menjelaskan sistem pelajaran ilmu pengetahuan yang paling mendasar
bagi manusia, yaitu dengan mengenalkan nama-nama benda terlebih dahulu. Seperti
yang dilakukan Allah pada nabi Adam. Aplikasinya telah kita lihat di kehidupan
sekarang, bukan hanya di pendidikan formal, bahkan seorang ibu baik yang
terpelajar maupun tidak akan tetap mengenalkan nama-nama benda terlebih dahulu
pada anaknya. Tanpa pengenalan nama-nama tidak akan terjalin saling pengertian
dan pemahaman dalam pemberian pelajaran.
ADAM
MENDENGAR LALU BERBICARA
Apabila seseorang dapat mendengar
maka dia dapat berbicara. Seorang bayi Arab yang dibesarkan dilingkungan
Inggris dimana semuanya berbicara bahasa Inggris hanya akan mengerti bahasa
Inggris dan tidak mengerti bahasa Arab meski dia lahir di Arab. Setelah Allah
SWT menciptakan Adam dan kemudian Hawa, pasti di antara mereka terdapat cara
berkomunikasi. Pendapat yang mengatakan manusia dulunya menggunakan isarat
untuk komunikasi adalah salah, karena jika manusia pertama tidak berbicara dan
menggunakan isarat, maka hingga sekarang tentu manusia tidak akan bisa bicara.
Buktinya seseorang yang terlahir tuli tidak akan bisa bicara hingga dikatakan
‘tuli bisu’. Bicara bukanlah suatu sifat yang diwariskan secara langsung,
melainkan hasil mendengar.
ALLAH
BUKTI ATAS WUJUD ALLAH
Salah satu kaidah bahasa adalah
bahwa sesuatu diketahui artinya lebih dulu baru ditetapkan ucapan atau namanya
dengan lafadz tertentu. Lembaga-lembaga bahasa di seluruh dunia setiap saat
menambah kata-kata baru yang arti-artinya tidak diketahui sebelumnya. Betapapun
akal manusia, dia tidak akan mampu memahami suatu kata apabila artinya tidak
diketahuinya. Allah SWT gaib dari kita dan tidak bisa dilihat oleh siapapun,
akan tetapi kata-kata “Allah” terdapat pada seluruh bahasa dunia dan dikenali
oleh setiap akal manusia. Surat Al-A’raaf ayat 172 menunjukkan bahwa Allah
secara tegas telah memberi kesaksian tentang diri-Nya bagi kita, oleh karena
itu ketika disebut katta-kata “Allah” kitapun langsung memahaminya, karena
sewaktu di alam gaib dulu sudah pernah memberi kesaksian tentang-Nya.
BERTAMBAHNYA
JUMLAH MANUSIA SEBAGAI BUKTI ATAS WUJUD ALLAH
Bukti statistik tentang wujud Allah
salah satunya adalah jumlah manusia yang terus bertambah. Allah SWT memberitahu
kita bahwa penciptaan manusia berawal dari seorang laki-laki dan perempuan
yaitu Adam dan Hawa. Bukti material dari hal tersebut dapat kita kaji dari
perkembangan jumlah manusia dari waktu ke waktu secara statistik. Saat ini
jumlah manusia di bumi mencapai milyaran. Tentu populasi pada beberapa abad
yang lalu lebih sedikit. Bahkan beberapa puluh abad sebelumnya juga semakin susut
dan berkurang jumlahnya. Hingga sampai di titik permulaan akan didapatkan bahwa
manusia berasal dari sepasang laki-laki dan perempuan.
IBRAH
DAN BUKTI ATAS WUJUD ALLAH DALAM LINTASAN SEJARAH
Apa yang diceritakan pada surat
Al-Fiil ayat 1-5 adalah suatu mukjizat yang tidak dilahirkan oleh seorang
rasul. Ayat-ayat ini tidak diturunkan untuk menanamkan keimanan bagi kaum
Muhammad yang tidak mau beriman terhadap seruan beliau, akan tetapi diturunkan
untuk memantapkan kesucian dan menunjukkan terlindungnya Baitil Haram Ka’bah.
Peristiwa itu juga satu mukjizat yang menandakan bahwa agama Allah yang akan
diturunkan kepada Rasulullah SAW tetap akan dipelihara dan dilindungi-Nya
walaupun seluruh manusia mengabaikannya. Kisah dalam ayat-ayat itu jelas akan
ditolak oleh akal pikiran orang-orang yang tidak beriman. Apalagi mereka
sendiri tidak menyaksikan langsung peristiwanya. Bagaimana mungkin burung yang
sekecil itu dapat memusnahkan bala tentara yang sedemikian kuat, apalagi bala
tentara itu didukung oleh pasukan kavaleri bergajah. Kaum kafir berusia lanjut
yang menentang ajaran Rasul saat itu sudah pernah menyaksikan serangan pasukan
bergajah, tapi mereka tidak membantah ataupun menyanggah ayat-ayat ini.
Peristiwa gajah ini, seperti halnya peristiwa perang Romawi-Persia telah
menambah bukti-bukti material atas wujud Allah SWT.
KISAH
HYKSOS DAN KERAJAAN FIR’AUN DALAM AL-QUR’AN ADALAH BUKTI MATERIAL ATAS WUJUD
ALLAH
Di dalam Al-Qur’an telah
diceritakan bahwa pada masa Nabi Musa as. yang berkuasa di Mesir disebut Fir’aun,
sedangkan yang berkuasa di Mesir pada masa Nabi Yusuf as. disebut Malik. Jaman
berlalu dan apa yang dikabarkan Al-Qur’an ini terbukti berdasarkan analisi dari
petunjuk seperti prasasti dan sebagainya yang masih ada dan kajian rumus bahasa
Mesir kuno akhirnya dapat dipastikan bahwa Yusuf as. hidup di Mesir pada masa
pendudukan kaum Hyksos. Akan tetapi akhirnya bangsa Mesir berhasil mengusir
Hyksos, dan dinasti Fir’aun kembali berkuasa. Allah SWT memaparkan rahasia
kerajaan dan kekuasaannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan membeberkan apa
yang dikehendaki dari ilmu-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya.
PENYAKIT
DAN OBATNYA, BUKTI MATERIAL ATAS WUJUD ALLAH
Firman Allah surat Asy-Syu’ara ayat
80 telah memancing perdebatan, karena ada yang berpendapat bahwa dokterlah yang
menyembuhkan penyakit. Sebenarnya yang dapat menyembuhkan penyakit adalah Allah
SWT saja. Allah menurunkan obat bagi setiap penyakit. Karena itu terkadang
seorang dokter baru justru dapat memberi obat yang tepat pada pasien dibanding
gurunya yang sudah pasti lebih pandai karena lebih berpengalaman. Akan tetapi
bukan berarti kita tidak perlu lagi berusaha untuk berobat. Dalam kehidupan ini
Allah menyuruh kita untuk berikhtiar, kita cari sebab dan obatnya, barulah bertawakal
dalam mengharapkan hasilnya.
PEMBUATAN
SUSU, BUKTI MATERIAL ATAS WUJUD ALLAH
Apa saja yang kita minum berasal
dari Allah SWT. Dengan kodrat Allah, air turun dari langit terasa tawar dan
mudah diminum. Susu diperah dari hewan ternak ciptaan Allah SWT dan
menyehatkan. Ilmu pengetahuan modern berusaha membuat susu tiruan dengan meramu
unsur-unsur yang serupa dengan unsur yang terdapat pada susu murni. Tapi hingga
sekarang ilmu pengetahuan mutakhir belum mampu membuat setetes pun susu buatan
yang sama dengan susu asli. Selain itu masih ada jenis minuman lain yang
diciptakan Allah SWT, contohnya minuman yang terkandung di berbagai
buah-buahan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar