Cerita Pendek: Namaku Jamata

Ini cerita pendek yang saya buat untuk diikutsertakan dalam sebuah ajang lomba formal. Sayang, cerita saya nggak masuk 20 besar. T^T ... Padahal yang masuk 20 besar ceritanya bakal diterbitkan jadi buku kumpulan cerpen. Yah, daripada mubazir (?) nggak ada yang baca, mending di-post di blog pribadi. ^^




Namaku Jamata


Matahari bersinar terik siang itu. Tipisnya awan yang menggantung di langit sama sekali tak membantu mengurangi pancaran panas matahari yang menuju ke bumi. Hembusan angin berdebu turut menambah kesan kering di siang itu. Seakan tak peduli akan cuaca terik yang ada, beberapa kendaraan bermotor tetap melaju melintasi sebuah jalanan sepi di pinggiran Kota Jambi.
Diantara sekian banyak mobil dan motor yang hilir-mudik tanpa henti itu, tampak sebuah mobil Toyota hitam jenis sedan tengah melaju dengan kecepatan yang tidak bisa dikatakan pelan. Seakan diburu waktu, mobil sedan hitam itu terus melaju. Bahkan tak jarang mobil itu menyalip kendaraan yang ada di depannya. Barulah setelah melewati sebuah gapura besar bertuliskan “Selamat Datang Kota Jambi”, mobil itu menurunkan kecepatannya.
“Jam! Bangun, Jam! Kita sudah sampai di Jambi.”
Panggilan—atau mungkin bisa dikatakan seruan—dari seorang wanita dewasa yang duduk di kursi sebelah pengemudi sedan hitam itu mengusik seorang gadis tanggung yang tertidur di jok belakang. Gadis berambut hitam sebahu itu mengusap matanya pelan dengan tatapan yang masih tak fokus. Matanya menyipit saat menatap wanita di depannya, mencoba memfokuskan pandangannya yang masih kabur.
“Kita sudah sampai di Jambi,” ulang wanita itu sambil tersenyum.
Seakan setengah jiwanya yang sebelumnya sempat melayang telah kembali ke tubuhnya, gadis itu menganggukkan kepalanya sambil membalas senyuman wanita berjilbab itu. Setelah orang yang membangunkannya kembali menghadap ke depan, gadis itu mengalihkan pandangannya pada jendela kaca di samping kanannya. Seulas senyuman tipis terukir di wajahnya.
“Sudah sampai,” bisiknya lirih.
*****
Jamata Lestari, itulah nama gadis berambut pendek yang tengah tersenyum mengamati pemandangan jalanan kota yang berjuluk “Tanah Pilih Pusako Betuah” dari mobil sedan yang tengah ditumpanginya itu. Gadis berkulit putih itu akan memasuki usia 15 tahun pada akhir bulan ini, usia dimana anak-anak Indonesia pada umumnya memasuki jenjang Sekolah Menengah Atas. Begitu pula dengan Jamata. Kedatangannya ke Kota Jambi kali ini tidak lain adalah untuk melanjutkan pendidikannya ke sebuah sekolah yang menjadi salah satu SMA favorit di Kota Jambi, SMA Negeri 3.
Demi melanjutkan pendidikan ke sekolah favorit, Jamata rela meninggalkan kampung halamannya, desa Pauh, yang terletak di Kabupaten Sarolangun. Meninggalkan teman-temannya yang sudah menemaninya semenjak ia mulai mengenal dunia luar selain keluarga. Sudah sejak lama Jamata memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke daerah lain yang memiliki daya saing lebih tinggi. Bukannya ia meremehkan teman-teman di daerahnya, hanya saja pada kenyataannya memang banyak diantara mereka yang sekolah hanya untuk memenuhi kebutuhan nilai rapor mereka saja. Tak ada keinginan sama sekali untuk memberikan nilai terbaik untuk mengisi lembaran buku laporan tahunan mereka itu. Karena itulah, Jamata menerima dengan senang hati saat kakaknya menawarkan dirinya untuk sekolah di SMA Negeri 3.
“Hati-hati selama kau belajar di sana.” Perkataan ayahnya saat malam sebelum keberangkatannya ke Jambi kembali terngiang di kepalanya. “Jambi itu berbeda dengan Pauh. Jika di sini ada keluargamu yang bisa kau andalkan, di sana kau harus bisa mengandalkan dirimu sendiri. Ingatlah tujuan awalmu sekolah di sana, jangan terpengaruh hal-hal yang tidak baik.”
Seulas senyuman tulus terukir di wajahnya saat ia mengingat kembali wajah ayahnya yang berusaha terlihat tegas, meskipun gurat-gurat kekhawatiran juga terlihat jelas di raut wajah tuanya. Masih segar juga diingatannya tatapan lembut ibunya saat mengantar kepergiannya beberapa jam yang lalu.
Aku pasti bisa, batin gadis itu yakin—atau lebih tepatnya, membuat dirinya yakin. Tak perlu khawatir, tidak akan ada masalah selama aku bersekolah di sini. Yah, semoga.
*****
“Hei, kau murid baru juga,ya?”
Panggilan ramah itu mengalihkan perhatian sesosok gadis berambut hitam sebahu yang tengah mengamati bangunan bertingkat di depannya. Helai rambut hitam pendeknya yang dikepang menjadi tujuh—sesuai bulan kelahirannya—bergerak mengikuti arah tolehan kepalanya, lalu jatuh tersampir di bahu kecilnya yang tertutupi kaos olahraga SMP lamanya yang ia kenakan.
“I—iya,”
Sosok gadis lain yang tadi menyapanya itu tersenyum lebar, membuat gadis berambut pendek itu mengernyitkan dahinya, menerka-nerka, apa yang membuat gadis di depannya ini bersikap seolah mereka berdua sudah saling mengenal.
“Namaku Vera,” Masih dengan senyuman lebar yang tersungging di wajahnya, gadis yang rambut panjangnya dikepang dua dengan tali rafia kuning itu mengulurkan tangan kanannya. “Aku dari SMP Sepuluh.”
Gadis berambut pendek yang menjadi objek sapaan itu tersenyum ragu. Tangannya masih berada di masing-masing sisi tubuhnya, seakan tak ingin menyambut tangan yang terulur di depannya. Saat matanya menangkap tatapan bingung gadis berkepang dua yang ditujukan padanya, barulah gadis itu menyambut uluran tangan di depannya meski dengan setengah hati.
 “Ah, maaf. Itu, namaku... Hm, Jamata.”
“Hah? Pejam mata?”
“Jamata!”
Gadis berambut pendek itu menutup mulutnya dengan tangan kirinya yang bebas saat tanpa sadar dirinya berseru dengan suara cukup keras. Beruntung tak ada yang menoleh ke arah mereka karena seruannya yang mendekati teriakan itu.
“Maaf,”
Jamata, yang semula mengira gadis bernama Vera yang berdiri di depannya itu akan menatapnya dengan pandangan aneh karena seruan refleksnya tadi, tersentak kaget saat mendengar gumaman gadis itu. Ia tak pernah menyangka bahwa gadis yang memiliki tubuh sedikit lebih pendek darinya itu justru meminta maaf padanya sambil menggaruk tengkuknya dengan tangan kanannya yang sudah melepaskan genggaman tangan mereka.
“Aku tadi salah dengar. Aku kira kau menyuruhku untuk pejam mata.” Senyuman lebar kembali disunggingkannya. “Maaf, ya.”
“Tidak apa-apa,” Jamata menjawab masih dalam keadaan bingung. Baru kali ini ada orang yang mendengar namanya tapi tidak mengejeknya. “Namaku memang aneh.”
“Tidak juga. Aku justru menyukai namamu. Namamu itu unik, bukan aneh.”
Sebersit perasaan hangat terasa menjalar di dada gadis yang lebih tinggi. Seulas senyuman tipis tanpa sadar tersungging di wajah manisnya. Perkataan seorang teman yang di kenalnya di Desa Pauh dulu kembali terngiang di kepalanya.
“Kau tenang saja, anak-anak di kota itu berbeda dengan anak-anak desa seperti mereka. Di kota nanti tidak akan ada yang mengejek namamu seperti yang dilakukan anak-anak kurang kerjaan itu. Percayalah padaku!”
Senyuman tipis di wajahnya perlahan melebar, hingga menampilkan deretan gigi putihnya yang rapi. “Benarkah?”
“Tentu! Namamu itu unik,” Vera menjawab dengan semangat yang terkesan berlebihan. Tiba-tiba saja ia menjadi lebih bersemangat saat kenalan barunya itu membalas senyumannya dengan tulus, tidak ragu-ragu seperti sebelumnya. “Kau dengar sendiri saja namaku. Vera. Bukankah itu nama yang terlalu umum? Bahkan di SMP dulu aku juga punya teman dan adik kelas yang namanya juga Vera. Kalau nama Jamata, kan, aku yakin di SMA Tiga ini nanti hanya kau saja yang memilikinya. Itu keren sekali, kau tahu?”
Jamata masih tersenyum lebar. Rasa senangnya akan respon yang diberikan Vera membuatnya sama sekali tak mempermasalahkan ocehan gadis yang lebih pendek darinya itu yang pastinya akan membuat orang lain yang mendengarnya merasa risih. Diam-diam ia menarik napas lega, merasa keputusannya untuk sekolah di kota “Angso Duo” itu adalah pilihan yang tepat. Setidaknya, itu pemikirannya saat ini.
*****
“Hah? Siapa namanya tadi?”
“Jamata. Tapi lengkapnya Nenek juga lupa, yang pasti namanya Jamata.”
“Ih, namanya aneh, ya. Lahirnya hari Jumat, ya?”
“Entahlah. Mungkin saja begitu.”
“Wah, berarti kalau dia lahir hari Sabtu, namanya jadi Sabata!”
“Kalau minggu, namanya Manggata!”
Selanjutnya tawa geli dari dua orang wanita paruh baya itu memenuhi ruang tamu yang mereka duduki, memecah keheningan di rumah sederhana itu. Mereka kemudian melanjutkan obrolan khas ibu-ibu itu dengan membawa topik pembicaraan yang lain. Melupakan pembicaraan tentang nama seorang gadis tanggung yang mulai beberapa hari yang lalu tinggal di rumah sederhana yang keseluruhan dindingnya dicat hijau muda itu. Mereka mengobrol seperti biasa, dengan diselingi beberapa komentar tajam dan tawa yang terkesan mengejek. Yang tidak mereka sadari adalah sesosok gadis yang sebelumnya menjadi objek obrolan mereka, mendengar semua kata-kata mereka dari balik dinding ruang tamu yang bersebelahan langsung dengan kamar tidurnya. Semuanya, termasuk komentar mengenai namanya.
Gadis berambut sebahu itu menghela napasnya kasar. Tangan kanannya terangkat menyelipkan rambut yang menutupi pipinya ke belakang telinga. Dipandanginya tumpukan buku tulis berukuran sedang dan tumpukan sampul cokelat di hadapannya. Kegiatannya memasang sampul pada buku tulisnya terpaksa terhenti sejak beberapa menit yang lalu, sejak namanya pertama kali diucapkan wanita-wanita paruh baya itu.
Jamata tidak mengenal suara nyaring salah satu wanita itu. Tapi ia tahu pasti siapa pemilik suara lain yang lebih kecil, suara pemilik rumah itu. Beberapa hari yang lalu, saat Bibi Eka—wanita berjilbab yang membangunkannya di mobil saat sedan hitam yang ia tumpangi memasuki kawasan Kota Jambi—mengantarnya ke rumah itu, Bibi Eka sempat menyebutkan namanya. Kalau tidak salah, wanita tua itu dipanggil Nenek Rita.
Nenek Rita adalah ibu dari temannya Bibi Eka, sehingga saat ayahnya mempermasalahkan tempat tinggal Jamata selama bersekolah di Kota, Bibi Eka langsung mengusulkan rumah Nenek Rita. Bibi Eka sendiri adalah tetangganya di Pauh yang rumahnya berada tepat di depan rumah Jamata. Kebetulan beberapa hari yang lalu Bibi Eka dan suaminya ada keperluan di Kota, sehingga Jamata bisa menumpang mobil mereka untuk ke rumah Nenek Rita. Barang-barang yang diperlukan Jamata selama bersekolah di kota sudah diantarkan ayah dan ibunya seminggu yang lalu, sekalian mengurus biaya kamar yang ditempati Jamata yang pastinya tidak gratis itu.
Hembusan napas kasar kembali terdengar keluar dari gadis berambut pendek itu. Padahal sekitar setengah jam yang lalu saat tamu Nenek Rita pertama kali datang, ia tidak merasa terusik sama sekali. Ia masih bisa melakukan pekerjaannya mempersiapkan alat-alat sekolahnya sambil mendengar pembicaraan dua wanita paruh baya di ruangan sebelah yang membicarakan tempoyak ikan patin. Sepertinya tamu Nenek Rita itu membawa seekor ikan patin besar yang dititipkan oleh Tante Yuni, puteri pertama Nenek Rita, untuk diberikan kepada wanita tua tersebut. Setahu Jamata, Tante Yuni memiliki dua anak laki-laki kembar yang masih bersekolah di kelas empat SD yang sering menginap di rumah Nenek Rita. Menurut cerita Bibi Eka yang notabene adalah teman Tante Yuni, kedua anak kembar itu sangat menyukai tempoyak ikan patin sebagai teman makan nasi mereka. Meskipun Nenek Rita dan Tante Yuni adalah orang Padang asli, kedua anaknya lebih menyukai makanan khas Jambi itu daripada rendang yang menjadi masakan kebanggaan ibunya. Jamata sendiri juga lebih menyukai makanan yang berasal dari durian itu, apalagi jika ikan yang dipakai adalah ikan patin. Ibunya sering memasak tempoyak ikan patin di rumahnya.
Ah, memikirkan tempoyak dan ikan patin membuat gadis itu teringat ibunya di Pauh.
Tiba-tiba saja Jamata merasa malas untuk melanjutkan pekerjaannya menyampul buku yang tertunda. Gadis itu menyingkirkan buku-buku yang belum sempat ia sampul ke kolong tempat tidur kecilnya. Suara obrolan masih terdengar jelas, hingga saat ia tengah memasukkan sampul-sampul cokelat ke dalam sebuah kantung plastik putih berlabel JPM Trona berwarna merah di bagian depannya, telinganya menangkap suara pintu yang dibuka. Dari suaranya sepertinya itu adalah pintu depan yang berada di ruang tamu. Ia semakin yakin saat suara obrolan wanita-wanita itu terhenti saat suara pintu kayu yang membentur dinding terdengar cukup keras.
“Astaghfirullah, Andre! Kalau mau masuk, ketuk dulu pintunya!” Seruan suara nyaring wanita yang sejak tadi mengobrol dengan Nenek Rita itu terdengar kesal. Jamata menebak-nebak siapa itu ‘Andre’ yang dengan tidak sopannya masuk rumah Nenek Rita tanpa permisi.
“Maaf, Bu. Andre datang ke sini hanya ingin menyampaikan pesan dari Bapak. Katanya Ibu di suruh pulang. Sudah sore, tidak baik menggosipkan orang sampai malam. Kalau mau, lanjutkan besok saja.”
Selanjutnya yang terdengar oleh Jamata adalah suara sandal yang bergesekan dengan lantai, lalu suara langkah kaki yang menjauh. Gadis itu menebak bahwa laki-laki bernama Andre itu sudah pergi lagi tanpa permisi.
“Huh, dasar anak kurang ajar. Katanya di SMA Tiga dia dapat juara terus, tapi kenapa kelakuannya seperti tidak berpendidikan begitu?” gerutuan kembali terdengar dari suara nyaring itu. “Ya, sudah. Nek, aku pulang dulu, ya. Besok aku datang lagi.”
Selanjutnya yang di dengar oleh Jamata adalah basa-basi singkat antara Nenek Rita dan tamunya, suara langkah kaki yang menjauh, suara pintu yang ditutup, kemudian hening. Samar-samar ia mendengar suara pintu dapur yang dibuka dan ditutup. Sepertinya Nenek Rita akan memasak makan malam untuk mereka berdua dan dua orang cucu laki-lakinya yang masih bersekolah di SD kelas dua dan kelas lima.
 “SMA Tiga?” Jamata bergumam lirih. “Apa mungkin laki-laki tadi juga sekolah di SMA Tiga, ya?”
Gadis itu mendudukkan dirinya di pinggiran kasur. Tatapannya tertuju pada jendela besar di sebelah kanannya yang tertutupi tirai putih dengan pandangan menerawang. Tanpa sadar ia terkekeh pelan saat teringat kata-kata yang diucapkan laki-laki tadi untuk memanggil ibunya pulang.
“Tidak ibu, tidak anak, semuanya sama saja.” gumamnya geli.
*****
Kegiatan MOS yang diadakan pihak OSIS telah berakhir kemarin. Hari ini seluruh murid baru memulai kegiatan belajar mengajar pertama mereka di jenjang SMA. Begitu pula dengan Jamata. Gadis berambut sebahu ini telah berada di depan kelasnya, berdiri di hadapan dua puluh sembilan orang yang akan menjadi teman sekelasnya selama satu tahun ke depan. Tepat satu meter di sisi kanan gadis itu, seorang guru wanita dengan seragam dinas serba hijaunya tengah berdiri bersandar pada meja guru. Tatapan guru yang ramah itu entah kenapa terasa mengintimidasi di mata sang gadis berambut sebahu. Dapat ia rasakan telapak tangannya mulai basah oleh keringat.
“Silahkan, perkenalkan dirimu.”
Jamata dapat merasakan tatapan seluruh teman sekelasnya yang saat ini tertuju padanya. Meski tak semuanya serius memperhatikan—ia bahkan dapat melihat seorang anak laki-laki berkulit gelap menatap kosong ke arah papan tulis di belakangnya sambil sebelah tangan menopang dagunya dan tangan lain yang mengetuk mejanya dengan ketukan tak berirama—tapi tetap saja ia merasa gugup.
Dengan menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan, gadis itu mulai mengedarkan pandangannya ke seluruh teman sekelasnya dan menyunggingkan senyuman ramahnya. “Selamat pagi, teman-teman.”
Setelah satu kelas membalas sapaannya, gadis berkulit putih itu kembali memulai. “Perkenalkan, nama saya Jamata Lestari. Saya dari SMP Negeri 7 Sarolangun. Saat ini saya tinggal di Thehok. Uhm—“
Ucapan gadis itu terputus. Tiba-tiba ia melupakan alamat tempat tinggal barunya. Merasa tak akan bisa mengingat alamatnya dalam keadaan gugup seperti itu, akhirnya gadis asal Pauh itu kembali melanjutkan seadanya. “—tepatnya di belakang kantor Polda Jambi. Terima kasih.”
Tepukan tangan mengiringi gadis itu kembali ke tempat duduknya yang berada di sudut kanan baris pertama. Saat ia telah mendudukkan dirinya di kursi kayu bercat cokelat itu, seorang gadis bertubuh gemuk yang duduk sebangku dengannya menyenggol lengannya pelan.
“Hei, namamu siapa tadi?”
Jamata memperhatikan teman sebangkunya itu. Kalau tidak salah sebelumnya gadis itu memperkenalkan dirinya di depan kelas dengan nama Ihya Aprilia. Gadis asal Pauh itu melirik guru yang masih berdiri di tempatnya semula, berpura-pura memastikan apakah sang guru memperhatikan mereka atau tidak. Padahal sebenarnya gadis berambut sebahu itu hanya ingin mengalihkan perhatiannya dari pertanyaan teman sebangkunya, yang entah kenapa membuatnya teringat percakapan antara dua wanita paruh baya mengenai namanya kemarin.
Apakah tak masalah aku memperkenalkan nama depanku? batin gadis itu bimbang. Bagaimana jika ia mengejek namaku seperti yang orang-orang biasa lakukan? Aku belum siap diejek lagi.
Tiba-tiba Jamata teringat pada Vera, salah satu dari segelintir orang yang tak mempermasalahkan ketidakbiasaan namanya. Sudah tiga hari ia tak berbicara dengan gadis cerewet itu. Selain karena kelompok mereka yang berbeda saat MOS kemarin, mereka juga berada di kelas yang berbeda. Interaksi yang mereka lakukan tiga hari terakhir hanyalah saling melempar senyum—dan lambaian tangan singkat dari Vera—tiap kali pandangan mereka tanpa sengaja bertemu.
“Hei,” Senggolan di lengan kanannya membuat gadis itu mengalihkan tatapannya yang tanpa sadar sejak tadi tertuju pada laki-laki jangkung yang tengah memperkenalkan diri di depan kelas. Dilihatnya teman sebangkunya, Ihya Aprilia, tengah menatapnya bingung.
“Jadi, siapa nama panggilanmu?”
Kepala gadis berkulit putih itu kembali dipenuhi percakapan dua wanita paruh baya kemarin, berbaur dengan percakapannya dengan Vera tiga hari sebelumnya. Kedua percakapan itu terus berputar dibenaknya bagai kaset rusak yang membuatnya merasa tak nyaman. Saat tatapan teman sebangkunya mulai telihat tak sabaran, akhirnya gadis itu memutuskan untuk menjawab pertanyaan itu.
“Tari. Kau bisa memanggilku Tari.”
Tepat setelah kalimat itu terucap olehnya, Jamata kembali teringat pada ucapan temannya di Pauh dulu.
“...Di kota nanti tidak akan ada yang mengejek namamu ... Percayalah padaku!”
Oh, Mila, batin Jamata menyebutkan nama si pemilik suara yang terngiang di kepalanya itu. Semoga keputusanku ini sudah benar.
*****
Tiga orang gadis dengan tinggi berbeda tampak tengah serius mengerjakan tugas kelompok yang diberikan oleh guru mereka di sebuah ruangan yang dindingnya bercat hijau. Mereka bertiga duduk di lantai keramik tanpa alas apapun, duduk berselonjor kaki dengan sebuah meja pendek berwarna putih di tengah-tengah mereka. Beberapa buku tampak berserakan di atas meja putih tersebut.
“Tari, kalau yang ini juga dikerjakan seperti ini, ya?” tanya seorang gadis bertubuh pendek pada teman yang duduk di sebelahnya.
Jamata yang sudah terbiasa dengan panggilan itu cepat menolehkan kepalanya kepada teman sekelasnya dan mengangguk sambil tersenyum. “Ya, benar seperti itu.”
 Ketiga gadis itu kembali tenggelam dalam tugas mereka. Saat ini mereka tengah mengerjakan tugas di rumah Nenek Rita, tempat tinggal sementara Jamata. Awalnya gadis itu menolak karena takut jika temannya bertemu dengan Nenek Rita atau kedua cucunya, maka kebohongannya akan terbongkar. Tapi ia tak bisa menolak saat temannya beralasan rumahnya yang paling dekat dengan sekolah, sedangkan rumah kedua teman lainnya berlawanan arah sehingga akan menyusahkan salah satu pihak.
Dua minggu telah berlalu semenjak kegiatan belajar mengajar di sekolah baru mereka itu berlangsung. Tepatnya ‘baru’ dua minggu berlalu, tapi mereka sudah mendapatkan banyak tugas dari guru-gurunya. Terasa sekali perbedannya dengan saat Jamata bersekolah di Pauh dulu, di mana ia bisa dengan santai menjalani hari tanpa memikirkan tugas dari gurunya yang memang jarang diberikan. Baru dua minggu berlalu dan Jamata sudah merasakan perbedaan antara kehidupan di Pauh dan Kota Jambi.
Selama dua minggu itu jugalah, teman-teman sekelas Jamata memanggilnya dengan panggilan ‘Tari’. Kebohongannya itu masih belum terbongkar, karena memang tak ada satupun warga sekolahnya yang mengenal dirinya sebelum ia masuk ke SMA 3. Vera yang dulunya sempat mengetahui nama panggilan aslinya saat ini berada di kelas X-6, kelas yang berada cukup jauh dari kelasnya, X-1. Jamata bahkan berharap kebohongannya tidak akan terbongkar hingga ia tamat dari sekolah itu.
Gadis itu sadar, kemungkinan harapannya itu akan terkabulkan sangat kecil, bahkan terancam sama sekali tak ada, saat ia mendengar sebuah suara laki-laki yang selama hampir dua minggu ini sering didengarnya kali ini terdengar berteriak heboh.
 “Neeek!”
Ketiga murid kelas X-1 itu serentak menoleh ke arah pintu depan yang memang sengaja dibiarkan terbuka. Terlihat oleh mereka seorang laki-laki bertubuh tinggi yang memakai kaos hijau tua dan celana pendek hitam balas menatap mereka satu persatu dengan tatapan terkejut yang sama tapi dengan maksud berbeda. Saat pandangan laki-laki itu jatuh pada sosok Jamata, laki-laki tinggi tersebut tersenyum lebar.
“Hai, Jam. Apa Nenek ada di rumah?”
Jamata dapat merasakan tatapan heran kedua temannya yang tertuju padanya saat laki-laki yang dikenalnya dengan nama Andre itu memanggilnya ‘Jam’. Gadis itu berdehem sekali untuk menutupi rasa takut yang perlahan mulai dirasakannya.
“Jam?” gadis bertubuh mungil menyela Jamata yang hampir menjawab. “Siapa itu Jam?”
Jamata merasakan keringat dingin membasahi telapak tangannya saat temannya itu menatapnya bingung.
“Tentu saja Jamata. Siapa lagi?” Andre dengan wajah bingungnya yang menjawab.
“Tari?” Gadis yang bertubuh lebih tinggi dari Jamata bertanya bingung sambil menunjuk gadis berambut sebahu di hadapannya.
“Tari?” Andre semakin kebingungan.
“Ah, Andre!” Jamata langsung menyela saat tatapan bingung kedua gadis dihadapannya berubah menjadi tatapan curiga. “Nenek beserta Deza dan Dimas ada di rumah Tante Yuni. Memangnya ada perlu apa?”
Andre menatap gadis asal Pauh itu dengan tatapan ganjil sekilas, sebelum akhirnya menggeleng dan kembali tersenyum lebar. “Tidak ada. Aku hanya ingin menyampaikan pesan ibuku. Ya, sudah. Kalau Nenek tidak ada, aku pulang saja.”
Setelahnya, laki-laki berkaos hijau dengan tulisan “Bandoeng Tempo Dulu” di bagian depannya itu berbalik dan meninggalkan ketiga gadis yang terjebak dalam suasana hening. Sosok gadis bertubuh mungil yang apabila diperhatikan lebih teliti ternyata memiliki tahi lalat di bawah mata kanannya membuka suara memecah keheningan itu.
“Jadi, bisa kau jelaskan ada apa ini, Jamata Lestari?”
Pandangan menuntut yang dilayangkan kedua teman sekelasnya itu membuat telapak tangan Jamata terasa semakin basah. Gadis itu mengelap kedua telapak tangannya ke celana pendek biru bergaris putih yang dikenakannya.
 “Ehm, itu...” Gadis itu memutar pandangannya ke segala arah, menghindari tatapan kedua gadis di depannya. “Namaku Jamata Lestari, ingat? Karena itu, terkadang aku dipanggil Jam. Jamata, tepatnya.”
“Oh, ya?” gadis lain yang bertubuh tinggi dan langsing yang menanggapi. “Lalu, bagaimana dengan ‘Tari’?”
“Itu panggilanku di sekolah sejak SD,” jawab Jamata tanpa pikir panjang. Yang ia inginkan hanyalah agar dua temannya itu tidak menyadari kebohongannya dan tidak mengadu pada siapapun. “Saat di rumah, aku dipanggil Jam. Jamata.”
“Lalu,” Gadis bertubuh mungil kembali bersuara. “Siapa laki-laki tadi? Sepertinya aku pernah melihatnya di sekolah.”
Jamata melirik kedua temannya. Menemukan ide untuk mengalihkan pembicaraan mereka sebelumnya. “Memang. Dia murid sekolah kita, kelas tiga. Namanya Andre. Dia tinggal di rumah depan sana. Ibunya berteman baik dengan Nenek Rita, pemilik rumah ini.”
Tak  satupun diantara dua gadis di depannya yang mengikuti arah tangan kanan Jamata yang menunjuk sebuah rumah yang terlihat jelas dari jendela di ruang tengah tersebut. Masing-masing dari mereka justru menatap gadis berambut sebahu itu saat menyadari reaksi ganjil gadis asal Pauh itu. Jamata yang menyadari usahanya tidak berhasil itu hanya bisa tersenyum kikuk. Merasa cemas dan takut akan reaksi kedua teman sekelasnya.
“Ya, sudah.” Gadis yang bertubuh mungil kembali membuka suara. “Ayo kita selesaikan saja tugasnya.”
Setelah ucapannya itu, kedua gadis yang lain mengikuti jejaknya membuka kembali buku mereka yang sempat terabaikan. Setengah jam berikutnya mereka lewati dalam hening yang menyesakkan bagi Jamata, hingga akhirnya kedua gadis lain yang juga merasa tak nyaman atas situasi itu langsung pamit pulang saat tugas mereka selesai.
Jamata mengantar kepergian dua temannya yang masing-masing mengendarai motor Vario putih dan Mio hijau sampai ke teras rumah. Saat sosok keduanya menghilang di tikungan di ujung jalan, Jamata membalikkan badannya bermaksud untuk menenangkan diri di dalam kamarnya. Saat itulah ia melihat Andre. Sosok yang telah membuka rahasianya tanpa sadar itu tengah melangkah menuju ke arahnya.
Jika menuruti kata hatinya, ingin sekali Jamata menutup pintu itu dengan cara membantingnya tepat di hadapan laki-laki tinggi tersebut, tapi niat itu urung dilakukan saat ia teringat bahwa rumah itu bukanlah rumahnya. Ia tidak boleh seenaknya bersikap kasar di rumah orang lain.
“Ada apa lagi?” tanpa sadar Jamata menggunakan nada sinis dalam pertanyaannya.
Senyum yang awalnya mengembang di wajah laki-laki tinggi itu perlahan menghilang, berubah menjadi ekspresi serius yang entah kenapa membuat Jamata merasa tak nyaman. “Kau mengaku pada teman-temanmu bahwa namamu Tari?”
“Namaku memang Tari. Jamata Lestari!”
“Dan panggilanmu itu Jamata. Bukan Tari.”
Jamata mendengus kasar sambil menyilangkan tangannya di depan dada. “Tahu apa kau? Kita baru saling kenal kurang dari dua minggu.”
“Dua minggu sudah cukup untukku mengenalmu dengan baik.”
Gadis asal Pauh itu mengernyitkan dahinya saat mendengar kalimat tegas yang diucapkan lawan bicaranya. “Apa maksudmu?”
Sekilas Jamata seperti melihat ada semburat merah samar mewarnai pipi laki-laki di hadapannya. Hanya sekilas, sehingga membuat gadis itu menganggap bahwa ia hanya salah lihat. “Pokoknya seperti itulah!” Laki-laki itu mengalihkan pandangannya ke samping sebelum kembali memandang gadis di depannya. “Yang pasti, dalam dua minggu ini membuatku yakin bahwa kau adalah gadis baik yang tidak mungkin berbohong mengenai nama panggilaanmu sendiri.”
“Apa maksudmu aku berbohong?!” Kembali, tanpa sadar nada sinis itu terlontar dari mulutnya. Gadis itu paling tidak suka ada orang lain yang menuduhnya. Lebih tidak suka lagi saat tuduhan orang itu adalah benar.
“Dengar,” Andre terlihat menarik napasnya berusaha agar tak terbawa emosi, lalu berujar dengan tenang. “Namamu itu keren, oke? Jarang ada orang yang memiliki nama sepertimu. Mungkin ada beberapa orang di luar sana yang memiliki nama yang sama denganmu dan aku yakin mereka tidak malu mengakui nama mereka itu.”
“Aku tidak malu!” potong Jamata tak terima.
“Jika kau memang tidak malu, buktikanlah! Percaya dirilah dengan nama yang orang tuamu berikan. Aku yakin mereka memberimu nama Jamata bukan tanpa maksud yang jelas. Mereka pasti memiliki maksud tersendiri mengapa memilih nama itu untukmu. Apa kau pernah bertanya pada mereka, apa arti dari namamu?”
Gadis berambut sebahu itu mengangguk pelan. Laki-laki tinggi di depannya tersenyum lembut saat menyadari gadis itu sudah mulai tenang. “Katanya namaku diambil dari bahasa Arab hari kelahiranku, agar mereka dapat mengenang saat-saat bahagia mereka ketika aku dilahirkan ke dunia ini. Terlebih lagi aku satu-satunya anak perempuan di keluargaku.”
“Benar, kan? Namamu itu indah. Bahkan makna yang terkandung di dalam namamu itu adalah kenangan indah orang tuamu saat mereka dikaruniai puteri cantik sepertimu.”
Tatapan tajam diberikan gadis itu pada laki-laki di hadapannya, meski semburat merah terlihat jelas di wajahnya bahkan menjalar hingga ke telinganya. “Dasar gombal. Kau itu playboy, ya?”
“Tidak.” Andre menjawab cepat. “Aku juga tidak sedang menggombal. Aku hanya mengulang apa yang kau ceritakan.”
“Sudahlah!” gadis berambut sebahu itu berseru. “Jangan membahas hal itu lagi. Apa tujuanmu ke sini? Bukankah sudah kukatakan, Nenek Rita sedang pergi?”
“Hah?” Laki-laki di hadapannya tampak kebingungan. “Aku hanya, hm, aku tadi ingin jalan ke sana, tapi entah kenapa malah sampai ke sini.”
Jamata melirik sekilas ke arah yang ditunjuk laki-laki tinggi itu, lalu mendengus pelan saat menyadari yang ditunjuknya adalah sebuah rental PS tak jauh dari rumahnya. Dasar laki-laki.
“Ya, sudah. Pergi sana!” Entah mendapat keberanian dari mana, Jamata berani berlaku kasar pada orang yang baru dua minggu dikenalnya itu. Dia yang biasanya bersikap pasif di depan orang baru entah kenapa bisa bersikap natural di depan laki-laki itu, seakan mereka sudah lama saling kenal. Bahkan, ia sendiri kaget dengan tangannya yang menutup pintu dengan kasar di hadapan laki-laki tinggi itu.
Untuk beberapa saat, gadis itu masih berdiri di balik pintu yang tertutup dengan sebelah tangan yang masih memegang pegangan besi yang menempel di sana. Percakapannya dengan Andre barusan kembali terngiang di kepalanya, membuat wajahnya terasa hangat. Dalam hati ia membenarkan perkataan laki-laki tinggi itu. Bahkan ia merutuki sikap bodohnya yang melupakan fakta penting tentang namanya. Jamata adalah nama pemberian kedua orang tuanya yang menyayanginya dan yang ia sayangi. Sudah sepatutnya ia bangga dengan nama itu, bukannya merasa malu hanya karena ejekan orang-orang yang tak tahu apa-apa tentang dirinya.
“Mila, ternyata keputusanku salah.” gumamnya lirih. Kedua tangan gadis itu berpindah menyelipkan rambut yang jatuh di pipinya ke belakang telinga.
“Bodoh,” gumaman lirih kembali terdengar dari bibir tipisnya, disertai dengan senyuman pahit yang perlahan berubah menjadi senyuman lembut. “Sudah kuputuskan. Mulai hari ini hanya ada Jamata. Jamata Lestari. Tidak ada lagi Tari atau siapapun itu. Namaku Jamata, titik”
Setelah merasa cukup bermonolog pada dirinya sendiri, gadis itu mulai beranjak dari tempatnya berdiri. Melangkah dengan tekad dan keyakinan yang baru memenuhi benaknya, satu persatu tersusun membentuk rencana baru untuk esok harinya. Rencana yang membuatnya merasakan semangat yang begitu kuat hingga membuatnya merasakan sesak. Sesak yang menyenangkan.

*****

End :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar