Namaku Jamata
Matahari
bersinar terik siang itu. Tipisnya awan yang menggantung di langit sama sekali
tak membantu mengurangi pancaran panas matahari yang menuju ke bumi. Hembusan
angin berdebu turut menambah kesan kering di siang itu. Seakan tak peduli akan
cuaca terik yang ada, beberapa kendaraan bermotor tetap melaju melintasi sebuah
jalanan sepi di pinggiran Kota Jambi.
Diantara sekian
banyak mobil dan motor yang hilir-mudik tanpa henti itu, tampak sebuah mobil
Toyota hitam jenis sedan tengah melaju dengan kecepatan yang tidak bisa
dikatakan pelan. Seakan diburu waktu, mobil sedan hitam itu terus melaju.
Bahkan tak jarang mobil itu menyalip kendaraan yang ada di depannya. Barulah
setelah melewati sebuah gapura besar bertuliskan “Selamat Datang Kota Jambi”,
mobil itu menurunkan kecepatannya.
“Jam! Bangun,
Jam! Kita sudah sampai di Jambi.”
Panggilan—atau
mungkin bisa dikatakan seruan—dari seorang wanita dewasa yang duduk di kursi
sebelah pengemudi sedan hitam itu mengusik seorang gadis tanggung yang tertidur
di jok belakang. Gadis berambut hitam sebahu itu mengusap matanya pelan dengan
tatapan yang masih tak fokus. Matanya menyipit saat menatap wanita di depannya,
mencoba memfokuskan pandangannya yang masih kabur.
“Kita sudah
sampai di Jambi,” ulang wanita itu sambil tersenyum.
Seakan setengah
jiwanya yang sebelumnya sempat melayang telah kembali ke tubuhnya, gadis itu
menganggukkan kepalanya sambil membalas senyuman wanita berjilbab itu. Setelah
orang yang membangunkannya kembali menghadap ke depan, gadis itu mengalihkan
pandangannya pada jendela kaca di samping kanannya. Seulas senyuman tipis
terukir di wajahnya.
“Sudah sampai,”
bisiknya lirih.
*****
Jamata Lestari,
itulah nama gadis berambut pendek yang tengah tersenyum mengamati pemandangan
jalanan kota yang berjuluk “Tanah Pilih Pusako Betuah” dari mobil sedan yang
tengah ditumpanginya itu. Gadis berkulit putih itu akan memasuki usia 15 tahun
pada akhir bulan ini, usia dimana anak-anak Indonesia pada umumnya memasuki
jenjang Sekolah Menengah Atas. Begitu pula dengan Jamata. Kedatangannya ke Kota
Jambi kali ini tidak lain adalah untuk melanjutkan pendidikannya ke sebuah
sekolah yang menjadi salah satu SMA favorit di Kota Jambi, SMA Negeri 3.
Demi melanjutkan
pendidikan ke sekolah favorit, Jamata rela meninggalkan kampung halamannya,
desa Pauh, yang terletak di Kabupaten Sarolangun. Meninggalkan teman-temannya
yang sudah menemaninya semenjak ia mulai mengenal dunia luar selain keluarga.
Sudah sejak lama Jamata memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke daerah lain
yang memiliki daya saing lebih tinggi. Bukannya ia meremehkan teman-teman di
daerahnya, hanya saja pada kenyataannya memang banyak diantara mereka yang
sekolah hanya untuk memenuhi kebutuhan nilai rapor mereka saja. Tak ada
keinginan sama sekali untuk memberikan nilai terbaik untuk mengisi lembaran
buku laporan tahunan mereka itu. Karena itulah, Jamata menerima dengan senang
hati saat kakaknya menawarkan dirinya untuk sekolah di SMA Negeri 3.
“Hati-hati
selama kau belajar di sana.” Perkataan ayahnya saat
malam sebelum keberangkatannya ke Jambi kembali terngiang di kepalanya. “Jambi itu berbeda dengan Pauh. Jika di sini
ada keluargamu yang bisa kau andalkan, di sana kau harus bisa mengandalkan
dirimu sendiri. Ingatlah tujuan awalmu sekolah di sana, jangan terpengaruh
hal-hal yang tidak baik.”
Seulas senyuman
tulus terukir di wajahnya saat ia mengingat kembali wajah ayahnya yang berusaha
terlihat tegas, meskipun gurat-gurat kekhawatiran juga terlihat jelas di raut
wajah tuanya. Masih segar juga diingatannya tatapan lembut ibunya saat
mengantar kepergiannya beberapa jam yang lalu.
Aku
pasti bisa, batin gadis itu yakin—atau lebih tepatnya, membuat
dirinya yakin. Tak perlu khawatir, tidak akan
ada masalah selama aku bersekolah di sini. Yah, semoga.
*****
“Hei, kau murid
baru juga,ya?”
Panggilan ramah
itu mengalihkan perhatian sesosok gadis berambut hitam sebahu yang tengah
mengamati bangunan bertingkat di depannya. Helai rambut hitam pendeknya yang
dikepang menjadi tujuh—sesuai bulan kelahirannya—bergerak mengikuti arah
tolehan kepalanya, lalu jatuh tersampir di bahu kecilnya yang tertutupi kaos
olahraga SMP lamanya yang ia kenakan.
“I—iya,”
Sosok gadis lain
yang tadi menyapanya itu tersenyum lebar, membuat gadis berambut pendek itu mengernyitkan
dahinya, menerka-nerka, apa yang membuat gadis di depannya ini bersikap seolah
mereka berdua sudah saling mengenal.
“Namaku Vera,”
Masih dengan senyuman lebar yang tersungging di wajahnya, gadis yang rambut
panjangnya dikepang dua dengan tali rafia kuning itu mengulurkan tangan
kanannya. “Aku dari SMP Sepuluh.”
Gadis berambut
pendek yang menjadi objek sapaan itu tersenyum ragu. Tangannya masih berada di
masing-masing sisi tubuhnya, seakan tak ingin menyambut tangan yang terulur di
depannya. Saat matanya menangkap tatapan bingung gadis berkepang dua yang
ditujukan padanya, barulah gadis itu menyambut uluran tangan di depannya meski
dengan setengah hati.
“Ah, maaf. Itu, namaku... Hm, Jamata.”
“Hah? Pejam mata?”
“Jamata!”
Gadis berambut
pendek itu menutup mulutnya dengan tangan kirinya yang bebas saat tanpa sadar
dirinya berseru dengan suara cukup keras. Beruntung tak ada yang menoleh ke
arah mereka karena seruannya yang mendekati teriakan itu.
“Maaf,”
Jamata, yang
semula mengira gadis bernama Vera yang berdiri di depannya itu akan menatapnya
dengan pandangan aneh karena seruan refleksnya tadi, tersentak kaget saat
mendengar gumaman gadis itu. Ia tak pernah menyangka bahwa gadis yang memiliki
tubuh sedikit lebih pendek darinya itu justru meminta maaf padanya sambil
menggaruk tengkuknya dengan tangan kanannya yang sudah melepaskan genggaman
tangan mereka.
“Aku tadi salah
dengar. Aku kira kau menyuruhku untuk pejam mata.” Senyuman lebar kembali
disunggingkannya. “Maaf, ya.”
“Tidak apa-apa,”
Jamata menjawab masih dalam keadaan bingung. Baru kali ini ada orang yang
mendengar namanya tapi tidak mengejeknya. “Namaku memang aneh.”
“Tidak juga. Aku
justru menyukai namamu. Namamu itu unik, bukan aneh.”
Sebersit perasaan
hangat terasa menjalar di dada gadis yang lebih tinggi. Seulas senyuman tipis
tanpa sadar tersungging di wajah manisnya. Perkataan seorang teman yang di
kenalnya di Desa Pauh dulu kembali terngiang di kepalanya.
“Kau
tenang saja, anak-anak di kota itu berbeda dengan anak-anak desa seperti
mereka. Di kota nanti tidak akan ada yang mengejek namamu seperti yang
dilakukan anak-anak kurang kerjaan itu. Percayalah padaku!”
Senyuman tipis
di wajahnya perlahan melebar, hingga menampilkan deretan gigi putihnya yang
rapi. “Benarkah?”
“Tentu! Namamu
itu unik,” Vera menjawab dengan semangat yang terkesan berlebihan. Tiba-tiba
saja ia menjadi lebih bersemangat saat kenalan barunya itu membalas senyumannya
dengan tulus, tidak ragu-ragu seperti sebelumnya. “Kau dengar sendiri saja
namaku. Vera. Bukankah itu nama yang terlalu umum? Bahkan di SMP dulu aku juga
punya teman dan adik kelas yang namanya juga Vera. Kalau nama Jamata, kan, aku
yakin di SMA Tiga ini nanti hanya kau saja yang memilikinya. Itu keren sekali, kau
tahu?”
Jamata masih
tersenyum lebar. Rasa senangnya akan respon yang diberikan Vera membuatnya sama
sekali tak mempermasalahkan ocehan gadis yang lebih pendek darinya itu yang pastinya
akan membuat orang lain yang mendengarnya merasa risih. Diam-diam ia menarik
napas lega, merasa keputusannya untuk sekolah di kota “Angso Duo” itu adalah
pilihan yang tepat. Setidaknya, itu pemikirannya saat ini.
*****
“Hah? Siapa
namanya tadi?”
“Jamata. Tapi
lengkapnya Nenek juga lupa, yang pasti namanya Jamata.”
“Ih, namanya
aneh, ya. Lahirnya hari Jumat, ya?”
“Entahlah.
Mungkin saja begitu.”
“Wah, berarti
kalau dia lahir hari Sabtu, namanya jadi Sabata!”
“Kalau minggu,
namanya Manggata!”
Selanjutnya tawa
geli dari dua orang wanita paruh baya itu memenuhi ruang tamu yang mereka
duduki, memecah keheningan di rumah sederhana itu. Mereka kemudian melanjutkan
obrolan khas ibu-ibu itu dengan membawa topik pembicaraan yang lain. Melupakan
pembicaraan tentang nama seorang gadis tanggung yang mulai beberapa hari yang
lalu tinggal di rumah sederhana yang keseluruhan dindingnya dicat hijau muda
itu. Mereka mengobrol seperti biasa, dengan diselingi beberapa komentar tajam
dan tawa yang terkesan mengejek. Yang tidak mereka sadari adalah sesosok gadis
yang sebelumnya menjadi objek obrolan mereka, mendengar semua kata-kata mereka
dari balik dinding ruang tamu yang bersebelahan langsung dengan kamar tidurnya.
Semuanya, termasuk komentar mengenai namanya.
Gadis berambut
sebahu itu menghela napasnya kasar. Tangan kanannya terangkat menyelipkan
rambut yang menutupi pipinya ke belakang telinga. Dipandanginya tumpukan buku
tulis berukuran sedang dan tumpukan sampul cokelat di hadapannya. Kegiatannya
memasang sampul pada buku tulisnya terpaksa terhenti sejak beberapa menit yang
lalu, sejak namanya pertama kali diucapkan wanita-wanita paruh baya itu.
Jamata tidak
mengenal suara nyaring salah satu wanita itu. Tapi ia tahu pasti siapa pemilik
suara lain yang lebih kecil, suara pemilik rumah itu. Beberapa hari yang lalu,
saat Bibi Eka—wanita berjilbab yang membangunkannya di mobil saat sedan hitam
yang ia tumpangi memasuki kawasan Kota Jambi—mengantarnya ke rumah itu, Bibi
Eka sempat menyebutkan namanya. Kalau tidak salah, wanita tua itu dipanggil
Nenek Rita.
Nenek Rita
adalah ibu dari temannya Bibi Eka, sehingga saat ayahnya mempermasalahkan
tempat tinggal Jamata selama bersekolah di Kota, Bibi Eka langsung mengusulkan
rumah Nenek Rita. Bibi Eka sendiri adalah tetangganya di Pauh yang rumahnya
berada tepat di depan rumah Jamata. Kebetulan beberapa hari yang lalu Bibi Eka
dan suaminya ada keperluan di Kota, sehingga Jamata bisa menumpang mobil mereka
untuk ke rumah Nenek Rita. Barang-barang yang diperlukan Jamata selama
bersekolah di kota sudah diantarkan ayah dan ibunya seminggu yang lalu,
sekalian mengurus biaya kamar yang ditempati Jamata yang pastinya tidak gratis
itu.
Hembusan napas
kasar kembali terdengar keluar dari gadis berambut pendek itu. Padahal sekitar
setengah jam yang lalu saat tamu Nenek Rita pertama kali datang, ia tidak
merasa terusik sama sekali. Ia masih bisa melakukan pekerjaannya mempersiapkan
alat-alat sekolahnya sambil mendengar pembicaraan dua wanita paruh baya di
ruangan sebelah yang membicarakan tempoyak ikan patin. Sepertinya tamu Nenek
Rita itu membawa seekor ikan patin besar yang dititipkan oleh Tante Yuni,
puteri pertama Nenek Rita, untuk diberikan kepada wanita tua tersebut. Setahu
Jamata, Tante Yuni memiliki dua anak laki-laki kembar yang masih bersekolah di
kelas empat SD yang sering menginap di rumah Nenek Rita. Menurut cerita Bibi
Eka yang notabene adalah teman Tante Yuni, kedua anak kembar itu sangat
menyukai tempoyak ikan patin sebagai teman makan nasi mereka. Meskipun Nenek
Rita dan Tante Yuni adalah orang Padang asli, kedua anaknya lebih menyukai
makanan khas Jambi itu daripada rendang yang menjadi masakan kebanggaan ibunya.
Jamata sendiri juga lebih menyukai makanan yang berasal dari durian itu,
apalagi jika ikan yang dipakai adalah ikan patin. Ibunya sering memasak
tempoyak ikan patin di rumahnya.
Ah, memikirkan
tempoyak dan ikan patin membuat gadis itu teringat ibunya di Pauh.
Tiba-tiba saja Jamata
merasa malas untuk melanjutkan pekerjaannya menyampul buku yang tertunda. Gadis
itu menyingkirkan buku-buku yang belum sempat ia sampul ke kolong tempat tidur
kecilnya. Suara obrolan masih terdengar jelas, hingga saat ia tengah memasukkan
sampul-sampul cokelat ke dalam sebuah kantung plastik putih berlabel JPM Trona
berwarna merah di bagian depannya, telinganya menangkap suara pintu yang
dibuka. Dari suaranya sepertinya itu adalah pintu depan yang berada di ruang
tamu. Ia semakin yakin saat suara obrolan wanita-wanita itu terhenti saat suara
pintu kayu yang membentur dinding terdengar cukup keras.
“Astaghfirullah,
Andre! Kalau mau masuk, ketuk dulu pintunya!” Seruan suara nyaring wanita yang
sejak tadi mengobrol dengan Nenek Rita itu terdengar kesal. Jamata
menebak-nebak siapa itu ‘Andre’ yang dengan tidak sopannya masuk rumah Nenek
Rita tanpa permisi.
“Maaf, Bu. Andre
datang ke sini hanya ingin menyampaikan pesan dari Bapak. Katanya Ibu di suruh
pulang. Sudah sore, tidak baik menggosipkan orang sampai malam. Kalau mau,
lanjutkan besok saja.”
Selanjutnya yang
terdengar oleh Jamata adalah suara sandal yang bergesekan dengan lantai, lalu
suara langkah kaki yang menjauh. Gadis itu menebak bahwa laki-laki bernama
Andre itu sudah pergi lagi tanpa permisi.
“Huh, dasar anak
kurang ajar. Katanya di SMA Tiga dia dapat juara terus, tapi kenapa kelakuannya
seperti tidak berpendidikan begitu?” gerutuan kembali terdengar dari suara
nyaring itu. “Ya, sudah. Nek, aku pulang dulu, ya. Besok aku datang lagi.”
Selanjutnya yang
di dengar oleh Jamata adalah basa-basi singkat antara Nenek Rita dan tamunya,
suara langkah kaki yang menjauh, suara pintu yang ditutup, kemudian hening.
Samar-samar ia mendengar suara pintu dapur yang dibuka dan ditutup. Sepertinya
Nenek Rita akan memasak makan malam untuk mereka berdua dan dua orang cucu
laki-lakinya yang masih bersekolah di SD kelas dua dan kelas lima.
“SMA Tiga?” Jamata bergumam lirih. “Apa
mungkin laki-laki tadi juga sekolah di SMA Tiga, ya?”
Gadis itu
mendudukkan dirinya di pinggiran kasur. Tatapannya tertuju pada jendela besar
di sebelah kanannya yang tertutupi tirai putih dengan pandangan menerawang.
Tanpa sadar ia terkekeh pelan saat teringat kata-kata yang diucapkan laki-laki
tadi untuk memanggil ibunya pulang.
“Tidak ibu,
tidak anak, semuanya sama saja.” gumamnya geli.
*****
Kegiatan
MOS yang diadakan pihak OSIS telah berakhir kemarin. Hari ini seluruh murid
baru memulai kegiatan belajar mengajar pertama mereka di jenjang SMA. Begitu
pula dengan Jamata. Gadis berambut sebahu ini telah berada di depan kelasnya,
berdiri di hadapan dua puluh sembilan orang yang akan menjadi teman sekelasnya
selama satu tahun ke depan. Tepat satu meter di sisi kanan gadis itu, seorang
guru wanita dengan seragam dinas serba hijaunya tengah berdiri bersandar pada
meja guru. Tatapan guru yang ramah itu entah kenapa terasa mengintimidasi di
mata sang gadis berambut sebahu. Dapat ia rasakan telapak tangannya mulai basah
oleh keringat.
“Silahkan,
perkenalkan dirimu.”
Jamata dapat
merasakan tatapan seluruh teman sekelasnya yang saat ini tertuju padanya. Meski
tak semuanya serius memperhatikan—ia bahkan dapat melihat seorang anak laki-laki
berkulit gelap menatap kosong ke arah papan tulis di belakangnya sambil sebelah
tangan menopang dagunya dan tangan lain yang mengetuk mejanya dengan ketukan
tak berirama—tapi tetap saja ia merasa gugup.
Dengan menarik
napas dalam dan menghembuskannya perlahan, gadis itu mulai mengedarkan
pandangannya ke seluruh teman sekelasnya dan menyunggingkan senyuman ramahnya.
“Selamat pagi, teman-teman.”
Setelah satu
kelas membalas sapaannya, gadis berkulit putih itu kembali memulai.
“Perkenalkan, nama saya Jamata Lestari. Saya dari SMP Negeri 7 Sarolangun. Saat
ini saya tinggal di Thehok. Uhm—“
Ucapan gadis itu
terputus. Tiba-tiba ia melupakan alamat tempat tinggal barunya. Merasa tak akan
bisa mengingat alamatnya dalam keadaan gugup seperti itu, akhirnya gadis asal
Pauh itu kembali melanjutkan seadanya. “—tepatnya di belakang kantor Polda
Jambi. Terima kasih.”
Tepukan tangan
mengiringi gadis itu kembali ke tempat duduknya yang berada di sudut kanan
baris pertama. Saat ia telah mendudukkan dirinya di kursi kayu bercat cokelat
itu, seorang gadis bertubuh gemuk yang duduk sebangku dengannya menyenggol
lengannya pelan.
“Hei, namamu
siapa tadi?”
Jamata
memperhatikan teman sebangkunya itu. Kalau tidak salah sebelumnya gadis itu
memperkenalkan dirinya di depan kelas dengan nama Ihya Aprilia. Gadis asal Pauh
itu melirik guru yang masih berdiri di tempatnya semula, berpura-pura
memastikan apakah sang guru memperhatikan mereka atau tidak. Padahal sebenarnya
gadis berambut sebahu itu hanya ingin mengalihkan perhatiannya dari pertanyaan
teman sebangkunya, yang entah kenapa membuatnya teringat percakapan antara dua
wanita paruh baya mengenai namanya kemarin.
Apakah
tak masalah aku memperkenalkan nama depanku? batin gadis itu
bimbang. Bagaimana jika ia mengejek
namaku seperti yang orang-orang biasa lakukan? Aku belum siap diejek lagi.
Tiba-tiba Jamata
teringat pada Vera, salah satu dari segelintir orang yang tak mempermasalahkan
ketidakbiasaan namanya. Sudah tiga hari ia tak berbicara dengan gadis cerewet
itu. Selain karena kelompok mereka yang berbeda saat MOS kemarin, mereka juga
berada di kelas yang berbeda. Interaksi yang mereka lakukan tiga hari terakhir
hanyalah saling melempar senyum—dan lambaian tangan singkat dari Vera—tiap kali
pandangan mereka tanpa sengaja bertemu.
“Hei,” Senggolan
di lengan kanannya membuat gadis itu mengalihkan tatapannya yang tanpa sadar
sejak tadi tertuju pada laki-laki jangkung yang tengah memperkenalkan diri di
depan kelas. Dilihatnya teman sebangkunya, Ihya Aprilia, tengah menatapnya
bingung.
“Jadi, siapa
nama panggilanmu?”
Kepala gadis
berkulit putih itu kembali dipenuhi percakapan dua wanita paruh baya kemarin,
berbaur dengan percakapannya dengan Vera tiga hari sebelumnya. Kedua percakapan
itu terus berputar dibenaknya bagai kaset rusak yang membuatnya merasa tak
nyaman. Saat tatapan teman sebangkunya mulai telihat tak sabaran, akhirnya
gadis itu memutuskan untuk menjawab pertanyaan itu.
“Tari. Kau bisa
memanggilku Tari.”
Tepat setelah
kalimat itu terucap olehnya, Jamata kembali teringat pada ucapan temannya di
Pauh dulu.
“...Di
kota nanti tidak akan ada yang mengejek namamu ... Percayalah padaku!”
Oh,
Mila, batin Jamata menyebutkan nama si pemilik suara yang
terngiang di kepalanya itu. Semoga
keputusanku ini sudah benar.
*****
Tiga
orang gadis dengan tinggi berbeda tampak tengah serius mengerjakan tugas
kelompok yang diberikan oleh guru mereka di sebuah ruangan yang dindingnya
bercat hijau. Mereka bertiga duduk di lantai keramik tanpa alas apapun, duduk
berselonjor kaki dengan sebuah meja pendek berwarna putih di tengah-tengah
mereka. Beberapa buku tampak berserakan di atas meja putih tersebut.
“Tari, kalau
yang ini juga dikerjakan seperti ini, ya?” tanya seorang gadis bertubuh pendek
pada teman yang duduk di sebelahnya.
Jamata yang
sudah terbiasa dengan panggilan itu cepat menolehkan kepalanya kepada teman
sekelasnya dan mengangguk sambil tersenyum. “Ya, benar seperti itu.”
Ketiga gadis itu kembali tenggelam dalam tugas
mereka. Saat ini mereka tengah mengerjakan tugas di rumah Nenek Rita, tempat
tinggal sementara Jamata. Awalnya gadis itu menolak karena takut jika temannya
bertemu dengan Nenek Rita atau kedua cucunya, maka kebohongannya akan
terbongkar. Tapi ia tak bisa menolak saat temannya beralasan rumahnya yang
paling dekat dengan sekolah, sedangkan rumah kedua teman lainnya berlawanan
arah sehingga akan menyusahkan salah satu pihak.
Dua minggu telah
berlalu semenjak kegiatan belajar mengajar di sekolah baru mereka itu
berlangsung. Tepatnya ‘baru’ dua minggu berlalu, tapi mereka sudah mendapatkan
banyak tugas dari guru-gurunya. Terasa sekali perbedannya dengan saat Jamata
bersekolah di Pauh dulu, di mana ia bisa dengan santai menjalani hari tanpa
memikirkan tugas dari gurunya yang memang jarang diberikan. Baru dua minggu
berlalu dan Jamata sudah merasakan perbedaan antara kehidupan di Pauh dan Kota
Jambi.
Selama dua
minggu itu jugalah, teman-teman sekelas Jamata memanggilnya dengan panggilan
‘Tari’. Kebohongannya itu masih belum terbongkar, karena memang tak ada satupun
warga sekolahnya yang mengenal dirinya sebelum ia masuk ke SMA 3. Vera yang
dulunya sempat mengetahui nama panggilan aslinya saat ini berada di kelas X-6,
kelas yang berada cukup jauh dari kelasnya, X-1. Jamata bahkan berharap
kebohongannya tidak akan terbongkar hingga ia tamat dari sekolah itu.
Gadis itu sadar,
kemungkinan harapannya itu akan terkabulkan sangat kecil, bahkan terancam sama
sekali tak ada, saat ia mendengar sebuah suara laki-laki yang selama hampir dua
minggu ini sering didengarnya kali ini terdengar berteriak heboh.
“Neeek!”
Ketiga murid
kelas X-1 itu serentak menoleh ke arah pintu depan yang memang sengaja
dibiarkan terbuka. Terlihat oleh mereka seorang laki-laki bertubuh tinggi yang
memakai kaos hijau tua dan celana pendek hitam balas menatap mereka satu
persatu dengan tatapan terkejut yang sama tapi dengan maksud berbeda. Saat
pandangan laki-laki itu jatuh pada sosok Jamata, laki-laki tinggi tersebut
tersenyum lebar.
“Hai, Jam. Apa
Nenek ada di rumah?”
Jamata dapat
merasakan tatapan heran kedua temannya yang tertuju padanya saat laki-laki yang
dikenalnya dengan nama Andre itu memanggilnya ‘Jam’. Gadis itu berdehem sekali
untuk menutupi rasa takut yang perlahan mulai dirasakannya.
“Jam?” gadis
bertubuh mungil menyela Jamata yang hampir menjawab. “Siapa itu Jam?”
Jamata merasakan
keringat dingin membasahi telapak tangannya saat temannya itu menatapnya
bingung.
“Tentu saja
Jamata. Siapa lagi?” Andre dengan wajah bingungnya yang menjawab.
“Tari?” Gadis
yang bertubuh lebih tinggi dari Jamata bertanya bingung sambil menunjuk gadis
berambut sebahu di hadapannya.
“Tari?” Andre
semakin kebingungan.
“Ah, Andre!”
Jamata langsung menyela saat tatapan bingung kedua gadis dihadapannya berubah
menjadi tatapan curiga. “Nenek beserta Deza dan Dimas ada di rumah Tante Yuni.
Memangnya ada perlu apa?”
Andre menatap
gadis asal Pauh itu dengan tatapan ganjil sekilas, sebelum akhirnya menggeleng
dan kembali tersenyum lebar. “Tidak ada. Aku hanya ingin menyampaikan pesan
ibuku. Ya, sudah. Kalau Nenek tidak ada, aku pulang saja.”
Setelahnya,
laki-laki berkaos hijau dengan tulisan “Bandoeng Tempo Dulu” di bagian depannya
itu berbalik dan meninggalkan ketiga gadis yang terjebak dalam suasana hening.
Sosok gadis bertubuh mungil yang apabila diperhatikan lebih teliti ternyata
memiliki tahi lalat di bawah mata kanannya membuka suara memecah keheningan
itu.
“Jadi, bisa kau
jelaskan ada apa ini, Jamata Lestari?”
Pandangan
menuntut yang dilayangkan kedua teman sekelasnya itu membuat telapak tangan
Jamata terasa semakin basah. Gadis itu mengelap kedua telapak tangannya ke
celana pendek biru bergaris putih yang dikenakannya.
“Ehm, itu...” Gadis itu memutar pandangannya
ke segala arah, menghindari tatapan kedua gadis di depannya. “Namaku Jamata
Lestari, ingat? Karena itu, terkadang aku dipanggil Jam. Jamata, tepatnya.”
“Oh, ya?” gadis
lain yang bertubuh tinggi dan langsing yang menanggapi. “Lalu, bagaimana dengan
‘Tari’?”
“Itu panggilanku
di sekolah sejak SD,” jawab Jamata tanpa pikir panjang. Yang ia inginkan
hanyalah agar dua temannya itu tidak menyadari kebohongannya dan tidak mengadu
pada siapapun. “Saat di rumah, aku dipanggil Jam. Jamata.”
“Lalu,” Gadis
bertubuh mungil kembali bersuara. “Siapa laki-laki tadi? Sepertinya aku pernah
melihatnya di sekolah.”
Jamata melirik
kedua temannya. Menemukan ide untuk mengalihkan pembicaraan mereka sebelumnya.
“Memang. Dia murid sekolah kita, kelas tiga. Namanya Andre. Dia tinggal di
rumah depan sana. Ibunya berteman baik dengan Nenek Rita, pemilik rumah ini.”
Tak satupun diantara dua gadis di depannya yang
mengikuti arah tangan kanan Jamata yang menunjuk sebuah rumah yang terlihat
jelas dari jendela di ruang tengah tersebut. Masing-masing dari mereka justru
menatap gadis berambut sebahu itu saat menyadari reaksi ganjil gadis asal Pauh
itu. Jamata yang menyadari usahanya tidak berhasil itu hanya bisa tersenyum
kikuk. Merasa cemas dan takut akan reaksi kedua teman sekelasnya.
“Ya, sudah.”
Gadis yang bertubuh mungil kembali membuka suara. “Ayo kita selesaikan saja
tugasnya.”
Setelah
ucapannya itu, kedua gadis yang lain mengikuti jejaknya membuka kembali buku
mereka yang sempat terabaikan. Setengah jam berikutnya mereka lewati dalam
hening yang menyesakkan bagi Jamata, hingga akhirnya kedua gadis lain yang juga
merasa tak nyaman atas situasi itu langsung pamit pulang saat tugas mereka
selesai.
Jamata mengantar
kepergian dua temannya yang masing-masing mengendarai motor Vario putih dan Mio
hijau sampai ke teras rumah. Saat sosok keduanya menghilang di tikungan di
ujung jalan, Jamata membalikkan badannya bermaksud untuk menenangkan diri di
dalam kamarnya. Saat itulah ia melihat Andre. Sosok yang telah membuka
rahasianya tanpa sadar itu tengah melangkah menuju ke arahnya.
Jika menuruti
kata hatinya, ingin sekali Jamata menutup pintu itu dengan cara membantingnya
tepat di hadapan laki-laki tinggi tersebut, tapi niat itu urung dilakukan saat ia
teringat bahwa rumah itu bukanlah rumahnya. Ia tidak boleh seenaknya bersikap
kasar di rumah orang lain.
“Ada apa lagi?”
tanpa sadar Jamata menggunakan nada sinis dalam pertanyaannya.
Senyum yang
awalnya mengembang di wajah laki-laki tinggi itu perlahan menghilang, berubah
menjadi ekspresi serius yang entah kenapa membuat Jamata merasa tak nyaman.
“Kau mengaku pada teman-temanmu bahwa namamu Tari?”
“Namaku memang
Tari. Jamata Lestari!”
“Dan panggilanmu
itu Jamata. Bukan Tari.”
Jamata mendengus
kasar sambil menyilangkan tangannya di depan dada. “Tahu apa kau? Kita baru
saling kenal kurang dari dua minggu.”
“Dua minggu
sudah cukup untukku mengenalmu dengan baik.”
Gadis asal Pauh
itu mengernyitkan dahinya saat mendengar kalimat tegas yang diucapkan lawan
bicaranya. “Apa maksudmu?”
Sekilas Jamata
seperti melihat ada semburat merah samar mewarnai pipi laki-laki di hadapannya.
Hanya sekilas, sehingga membuat gadis itu menganggap bahwa ia hanya salah
lihat. “Pokoknya seperti itulah!” Laki-laki itu mengalihkan pandangannya ke
samping sebelum kembali memandang gadis di depannya. “Yang pasti, dalam dua
minggu ini membuatku yakin bahwa kau adalah gadis baik yang tidak mungkin
berbohong mengenai nama panggilaanmu sendiri.”
“Apa maksudmu
aku berbohong?!” Kembali, tanpa sadar nada sinis itu terlontar dari mulutnya.
Gadis itu paling tidak suka ada orang lain yang menuduhnya. Lebih tidak suka
lagi saat tuduhan orang itu adalah benar.
“Dengar,” Andre terlihat
menarik napasnya berusaha agar tak terbawa emosi, lalu berujar dengan tenang.
“Namamu itu keren, oke? Jarang ada orang yang memiliki nama sepertimu. Mungkin
ada beberapa orang di luar sana yang memiliki nama yang sama denganmu dan aku
yakin mereka tidak malu mengakui nama mereka itu.”
“Aku tidak
malu!” potong Jamata tak terima.
“Jika kau memang
tidak malu, buktikanlah! Percaya dirilah dengan nama yang orang tuamu berikan.
Aku yakin mereka memberimu nama Jamata bukan tanpa maksud yang jelas. Mereka pasti
memiliki maksud tersendiri mengapa memilih nama itu untukmu. Apa kau pernah
bertanya pada mereka, apa arti dari namamu?”
Gadis berambut
sebahu itu mengangguk pelan. Laki-laki tinggi di depannya tersenyum lembut saat
menyadari gadis itu sudah mulai tenang. “Katanya namaku diambil dari bahasa
Arab hari kelahiranku, agar mereka dapat mengenang saat-saat bahagia mereka
ketika aku dilahirkan ke dunia ini. Terlebih lagi aku satu-satunya anak
perempuan di keluargaku.”
“Benar, kan?
Namamu itu indah. Bahkan makna yang terkandung di dalam namamu itu adalah
kenangan indah orang tuamu saat mereka dikaruniai puteri cantik sepertimu.”
Tatapan tajam
diberikan gadis itu pada laki-laki di hadapannya, meski semburat merah terlihat
jelas di wajahnya bahkan menjalar hingga ke telinganya. “Dasar gombal. Kau itu playboy, ya?”
“Tidak.” Andre
menjawab cepat. “Aku juga tidak sedang menggombal. Aku hanya mengulang apa yang
kau ceritakan.”
“Sudahlah!”
gadis berambut sebahu itu berseru. “Jangan membahas hal itu lagi. Apa tujuanmu ke
sini? Bukankah sudah kukatakan, Nenek Rita sedang pergi?”
“Hah?” Laki-laki
di hadapannya tampak kebingungan. “Aku hanya, hm, aku tadi ingin jalan ke sana,
tapi entah kenapa malah sampai ke sini.”
Jamata melirik
sekilas ke arah yang ditunjuk laki-laki tinggi itu, lalu mendengus pelan saat
menyadari yang ditunjuknya adalah sebuah rental PS tak jauh dari rumahnya.
Dasar laki-laki.
“Ya, sudah.
Pergi sana!” Entah mendapat keberanian dari mana, Jamata berani berlaku kasar
pada orang yang baru dua minggu dikenalnya itu. Dia yang biasanya bersikap
pasif di depan orang baru entah kenapa bisa bersikap natural di depan laki-laki
itu, seakan mereka sudah lama saling kenal. Bahkan, ia sendiri kaget dengan
tangannya yang menutup pintu dengan kasar di hadapan laki-laki tinggi itu.
Untuk beberapa
saat, gadis itu masih berdiri di balik pintu yang tertutup dengan sebelah
tangan yang masih memegang pegangan besi yang menempel di sana. Percakapannya
dengan Andre barusan kembali terngiang di kepalanya, membuat wajahnya terasa hangat.
Dalam hati ia membenarkan perkataan laki-laki tinggi itu. Bahkan ia merutuki
sikap bodohnya yang melupakan fakta penting tentang namanya. Jamata adalah nama
pemberian kedua orang tuanya yang menyayanginya dan yang ia sayangi. Sudah
sepatutnya ia bangga dengan nama itu, bukannya merasa malu hanya karena ejekan
orang-orang yang tak tahu apa-apa tentang dirinya.
“Mila, ternyata
keputusanku salah.” gumamnya lirih. Kedua tangan gadis itu berpindah menyelipkan
rambut yang jatuh di pipinya ke belakang telinga.
“Bodoh,” gumaman
lirih kembali terdengar dari bibir tipisnya, disertai dengan senyuman pahit
yang perlahan berubah menjadi senyuman lembut. “Sudah kuputuskan. Mulai hari
ini hanya ada Jamata. Jamata Lestari. Tidak ada lagi Tari atau siapapun itu. Namaku
Jamata, titik”
Setelah merasa
cukup bermonolog pada dirinya sendiri, gadis itu mulai beranjak dari tempatnya
berdiri. Melangkah dengan tekad dan keyakinan yang baru memenuhi benaknya, satu
persatu tersusun membentuk rencana baru untuk esok harinya. Rencana yang
membuatnya merasakan semangat yang begitu kuat hingga membuatnya merasakan
sesak. Sesak yang menyenangkan.
*****
End :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar